Senin, 31 Agustus 2015

mengenal jenis alat pemecah batu

mengenal jenis alat pemecah batu

Mengenal Jenis – Jenis Alat Pemecah Batu (Jaw dan Gyratory) dalam pekerjaan konstruksi jalan, efisiensi dan efektivitas produksi agregat untuk campuran beraspal sangat ditetukan oleh pengaturan dan pengawasan pada unit alat pemecah batu (stone crusher). Sebelum agregat masuk kea lat pemecah batu, bahan baku harus lah sudah memenuhi persyaratan kekerasan dan keawetan tertentu. Begitu juga setelah batu itu dipecah-pecah, harus juga memenuhi persyaratan fisik yang sudah ditentukan dalam spesifikasi. Jika bahan baku batuan tersebut mengandung kotoran seperti tanah atau kotoran organik maka harus dibersihkan dahulu sebelum dilakukan pemecahan di unit pemecah. Memakai agregat yang kotor akan mempengaruhi kekuatan dari perkerasan karena jalan mudah retak akibat daya ikat mengikat menjadi rendah.
Dalam memproduksi agregat dapat diklasifikasikan berdasarkan ukuran pemecahnya, yaitu pemecah primer, pemecah sekunder dan pemecah tersier.. Pemecah primer langsung menerima bahan baku dari querry dan kemudian memperkecil bahan baku tersebut dengan cara dipecahkan. hasil dari pemecah primer masuk ke pemecah sekunder dan demikian seterusnya samapi diperoleh ukuran agregat yang diinginkan. Secara umum jika kita urutkan maka terklasifikasi sperti berikut ini :
  1. Pemecah primer, biasanya digunakan alat pemecah batu jenis jaw, gyratory atau hammer mill
  2. Pemecah sekunder, biasanya digunakan pemecah batu konus, roll atau hammer mill
  3. pemecah tersier, biasanya digunakan pemecah batu jenis roll, rod mill atau ball mill
Sekarang mari kita lihat jenis – jenis alat pemecah batu yang sebagian sudah disebutkan diatas. jenis- jenis pemecah batu ini meliputi 4 macam yaitu :
a)      Pemecah batu jenis jaw
–          Penggerak tunggal
–          Penggerak ganda
b)      Pemecah batu jenis gyratory dan konus (cone)
–          Gyratory
–          Konus (cone)
c)      Pemecah batu jenis bentur (impact)
–          Primer
–          Penggiling (hammermills/limemills)
–          Batang horizontal (horizontal shaft)
–          batang vertical (vertical shaft)
d)     Pemecah batu jenis silinder (roll)
–          Silinder tunggal (single roll)
–          Silinder ganda (double roll)

Sekarang kita akan membahas pemecah batu jenis jaw dan gyratory.
alat pemecah batu
Pemecah batu jenis jaw
Pemecah tipe ini adalah jenis yang paling banyak digunakan untuk pemecah primer (primary crusher). jenis ini sangat efektif digunakan untuk batuan sedimen samapi batuan yang paling keras seperti granit dan basal. Bentuk alat ini seperti rahang penjepit dengan dua buah plat yang salah satu platnya berada pada posisi tetap sedangkan plat yang lainnya bergerak yang didorong oleh satu (single) atau dua (double) batang penggerak (toggle) sebagai penghantam. Penggerak tunggal digunakan untuk pemecah pertama dan penggerak ganda untuk pemecah kedua. Plat ini terbuat dari baja manganese dan dapat diganti-ganti lho. jadi jangan takut kalau suatu saat plat nya rusak atau tergerus karena batuan. Untuk masalah harga, jaw crusher penggerak tunggal lebih rendah 20% – 40% dari harga penggerak ganda, bentuknya lebih berat tetapi pendek, dan kapasitas produksinya tinggi. penggerak ganda harganya relatif lebih mahal dan digunakan untuk memecah batu yang abrasif seperti kuarsa.

Pemecah batu jenis gyratory
Pemecah batu jenis gyratory ini mempunyai konus yang bergerak berputar dan bergoyang turun naik dengan sudut bervariasi. Konus bagian dalam berputar secara eksentris. mesin ini dapat digunakan untuk batu yang abrasif, kasar dan kenyal. Berat mesin antara 5 sampai 10 kali berat pemecah jenis jaw, harganya pun 3x lebih mahal daripada pemecah jenis jaw. namun output yang dihasilkan lebih tinggi dengan menghasilkan batu yang lebih halus daripada hasil pemecah jenis jaw, selain itu pemecah jenis ini dapat menangani ukuran batu yang beragam, hemat energy dan dapat menangani batu yang basah dan sedikit berlempungan.

Urutan pekerjaan pemasangan tower crane

Urutan pekerjaan pemasangan tower crane

Dalam pembangunan gedung bertingkat tinggi membutuhkan alat yang dapat mengangkat beban berat sampai sekian ribu ton. alat yang bisa digunakan yaitu mobile crane yang dapat berpindah tempat secara cepat, atau bisa juga menggunakan tower crane (TC) yang diam ditempat. Posisi TC diatur sedemikian rupa agar dapat melayani sebanyak mungkin aktifitas pembangunan. Perlu perencanaan yang matang agar didapatkan alat terbaik. Nah.. berikut ini urutan pekerjaan pemasangan tower crane barangkali dapat menjadi penambah refrensi keilmuan alat berat bagi saudara saudari :-)

Urutan pekerjaan pemasangan tower crane
  1. Menentukan TC yang akan digunakan, dari mana alat tersebut akan diadakan, apakah mau sewa atau beli untuk mendapatkan harga termurah sekaligus kualitas terbaik. dari evaluasi tersebut maka dapat diputuskan tipe alat apa yang akan dipakai.
  2. Desain Pondasi TC, Berdasarkan data-data yang tersedia entah itu brosur TC serta informasi lain, dapat digunakan sebagai pedoman perencanaan untuk menentukan seperti apa pondasi yang kuat dan murah. hasilnya berupa bentuk dan ukuran pondasi, jenis dan jumlah besi yang digunakan dan tipe beton K berapa yang mau dipakai.
  3. Gambar Pondasi dan perletakan TC, dilanjutkan dengan pembuatan shop drawing tower crane yang berfungsi untuk proses perizinan sekaligus pedoman pelaksanaan dilapangan.
  4. Pengukuran Posisi TC dilapangan, menentukan dimana titik lokasi pondasi TC akan dibuat.
  5. Galian Tanah, dilanjutkan dengan menggali tanah sebagai tempat dimana berdirinya pondasi.
  6. Bekisting pondasi, berfungsi sebagai batas cor sekaligus alat cetak pondasi brton bertulang.
  7. Pembesian / pemasangan besi tulangan, besi berfungsi sebagai penahan gaya tarik,tekan dan geser bekerjasama dengan beton agar pondasi kuat.
  8. Pasang angkur TC, bisa dibilang sebagai sepatunya tower crane, dimana alat berat ini berpijak.
  9. Cor pondasi TC, selanjutnya dapat dilakukan pengecoran menggunakan tipe beton sesuai rencana.
  10. Pemasangan Tower crane, sering disebut juga sebagai erection TC.
  11. Pasang lampu dan perlengkapan TC.
  12. TC siap dioperasikan.

Jadi begitulah gambaran sederhana mengenai proses urutan pekerjaan tower crane dari awal perencanaan sampai dengan pemasangan sehingga dapat beroperasi sesuai harapan :-)

Jumat, 28 Agustus 2015

Perencanaan Tambang (mine plan)

Perencanaan Tambang (mine plan)


Perencanaan Tambang

1. Arti Perencanaan

Perencanaan tambang dapat diartikan sebagai kegiatan berikut :
  • Penentuan tujuan dan sasaran kegiatan yang ingin dicapai.
  • Proses persiapan secara sistematik mengenai kegiatan yang akan dilakukan.
  • Cara mencapai tujuan dan sasaran dengan menggunakan sumber dan kemampuan yang tersedia secara berdaya guna dan berdaya hasil.
  • Pembahasan dari persoalan, kemungkinan dan kesempatan yang dapat terjadi yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan.
  • Penentuan dari tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan berdasarkan analisa tujuan dan kesempatan.

2.  Fungsi Perencanaan

Fungsi perencanaan Tambang  tergantung dari jenis perencanaan yang digunakan dan sasaran yang dituju, tetapi secara umum fungsi perencanaan dapat dikatakan antara lain sebagai berikut :
  • Pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan dalam pencapaian tujuan.
  • Perkiraan terhadap masalah pelaksanaan, kemampuan, harapan, hambatan dan kegagalannya mungkin terjadi.
  • Usaha untuk mengurangi ketidakpastian.
  • Kesempatan untuk memilih kemungkinan terbaik.
  • Penyusunan urutan kepentingan tujuan.
  • Alat pengukur atau dasar ukuran dalam pengawasan dan penilaian.
  • Cara penggunaan dan penempatan sumber secara berdaya guna dan berdaya hasil.

3. Tujuan Perencanaan Tambang

Tujuan dari pekerjaan perencanaan tambang adalah membuat suatu rencana produksi tambang untuk sebuah cebakan bijih yang akan :
  • Menghasilkan tonase bijih pada tingkat produksi yang telah ditentukan dengan biaya yang semurah mungkin.
  • Menghasilkan aliran kas (cash flow) yang akan memaksimalkan beberapa kriteria ekonomik seperti rate of return atau net present value.

4.  Masalah Perencanaan Tambang

Masalah perencanaan tambang merupakan masalah yang kompleks karena merupakan problem geometrik tiga dimensi yang selalu berubah dengan waktu. Geometri tambang bukan satu-satunya parameter yang berubah dengan waktu.Parameter-parameter ekonomi penting yang lain pun sering merupakan fungsi waktu pula.

5.  Ruang Lingkup Perencanaan Tambang

Agar perencanaan tambang dapat dilakukan dengan lebih mudah, masalah ini biasanya dibagi menjadi tugas-tugas sebagai berikut :

a. Penentuan batas dari pit

Menentukan batas akhir dari kegiatan penambangan (ultimate pit limit) untuk suatu cebakan bijih. Ini berarti menentukan berapa besar cadangan bijih yang akan ditambang (tonase dan kadarnya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan bijih tersebut. Dalam penentuan batas akhir dari pit, nilai waktu dari uang belum diperhitungkan.

b.  Perancangan pushback

Merancang bentuk-bentuk penambangan (minable geometries) untuk menambang habis cadangan bijih tersebut mulai dari titik masuk awal hingga ke batas akhir daripit.  Perancangan pushback atau tahap-tahap penambangan ini membagi ultimate pitmenjadi unit-unit perencanaan yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola. Hal ini akan membuat masalah perancangan  tambang tiga dimensi yang kompleks menjadi lebih sederhana. Pada tahap ini elemen waktu sudah mulai dimasukkan ke dalam rancangan penambangan karena urut-urutan penambangan pushback telah mulai dipertimbangkan.

c.  Penjadwalan produksi

Menambang bijih dan lapisan penutupnya (waste) di atas kertas, jenjang demi jenjang mengikuti urutan  pushback, dengan menggunakan tabulasi tonase dan kadar untuk tiap  pushback yang diperoleh dari tahap 2).  Pengaruh dari berbagai kadar batas (cut off grade) dan berbagai tingkat produksi bijih dan waste dievaluasi dengan menggunakan kriteria nilai waktu dari uang, misalnya  net present value.  Hasilnya akan dipakai untuk menentukan sasaran jadwal produksi yang akan memberikan tingkat produksi dan strategi kadar batas yang terbaik.

d.  Perencanaan tambang berdasarkan urutan waktu

Dengan menggunakan sasaran jadwal produksi yang dihasilkan pada tahap 3), gambar atau peta-peta rencana penambangan dibuat untuk setiap periode waktu (biasanya per tahun).  Peta-peta ini menunjukkan dari bagian mana di dalam tambang datangnya bijih dan  waste untuk tahun tersebut.  Rencana penambangan tahunan ini sudah cukup rinci, di dalamnya sudah termasuk pula jalan angkut dan ruang kerja alat, sedemikian rupa sehingga merupakan bentuk yang dapat ditambang. Peta rencana pembuangan lapisan penutup (waste dump) dibuat pula untuk periode waktu yang sama sehingga gambaran keseluruhan dari kegiatan penambangan dapat terlihat.

e.  Pemilihan alat

Berdasarkan peta-peta rencana penambangan dan penimbunan lapisan penutup dari tahap 4) dapat dibuat profil jalan angkut untuk setiap periode waktu.  Dengan mengukur profil jalan angkut ini, kebutuhan armada alat angkut dan alat muatnya dapat dihitung untuk setiap periode (setiap tahun). Jumlah alat bor untuk peledakan serta alat-alat bantu lainnya (dozer, grader, dll.) dihitung pula.

f.  Perhitungan ongkos-ongkos operasi dan kapital

Dengan menggunakan tingkat produksi untuk peralatan yang dipilih, dapat dihitung jumlah gilir kerja (operating shift) yang diperlukan untuk mencapai sasaran produksi.  Jumlah dan jadwal kerja dari personil yang dibutuhkan untuk operasi, perawatan dan pengawasan dapat ditentukan.  Akhirnya, ongkos-ongkos operasi, kapital dan penggantian alat dapat dihitung.
Catatan:
peta-peta yang dihasilkan dalam tahap 1), tahap 2) dan tahap 4) merupakan peta tampak atas (plan/level maps).

6. TAHAPAN DALAM PERENCANAAN

6.1  Pendahuluan

Tahapan dalam perencanaan menurut LEE (1984) dan Taylor (1977) dapat terbagi tiga tahap, yaitu :
1. Studi Konseptual.
Studi pada tahap pekerjaan awal ini merepresentasikan suatu transformasi dari suatu ide proyek kedalam usulan investasi yang luas dengan menggunakan metoda-metoda perbandingan dari definisi ruang lingkup dan teknik-teknik estimasi biaya untuk mengidentifikasikan suatu kesempatan investasi yang potensial. Biaya modal dan biaya operasi biasanya didekati dengan perkiraan nisbah yang menggunakan data historik.
Studi ini akan menekankan pada aspek investasi yang utama dari usulan penambangan yang memungkinkan. Persiapan studi ini pada umumnya adalah pekerjaan dari satu atau dua insinyur. Hasil dari studi ini dilaporkan sebagai evaluasi awal.
Studi ini sering juga disebut order of magnitudes studies atau scoping studies.
Pada umumnya berdasarkan data sementara/tak lengkap dan yang keabsahannya masih diragukan.
Hasilnya biasanya merupakan suatu dokumen intern dan tidak disebarluaskan di luar perusahaan yang bersangkutan.
Di samping meninjau kemungkinan diteruskannya proyek ini, tujuan lainnya adalah menentukan topik yang harus dievaluasi secara mendalam pada studi yang lebih rinci di masa yang akan datang.
2.   Pra Studi Kelayakan
Srudi ini adalah suatu pekerjaan pada tingkat menengah (intermedia) dan secara normal tidak untuk mengambil keputusan. Studi ini mempunyai obyektif didalam penentuan apakah konsep proyek tersebut menjustifikasi suatu analisis detail oleh suatu studi kelayakan (apakah studi kelayakan diperlukan) dan apakah setiap aspek dari proyek adalah kritis dan memerlukan suatu investigasi yang mendalam melalui suatu studi pendukung.
Studi ini harus dipandang sebagai suatu tahap menengah antara studi konseptual yang tidak mahal dan suatu studi kelayakan yang relatif mahal. beberapa dari studi ini dibuat oleh suatu tim (terdiri 2 & 3 orang). Kedua atau ketiga orang ini mempunyai akses ke konsultan dalam berbagai bidang, selain dapat berupa usaha dari multi group.
Data yang digunakan lebih lengkap dan kualitasnya lebih baik.
Beberapa pekerjaan paling tidak telah dilakukan untuk semua aspek penting dari proyek seperti pengujian metalurgi bijih, geoteknik, lingkungan, dsb.
Bagi perusahaan tambang besar, studi pra-kelayakan ini cenderung masih dianggap sebagai dokumen intern. Perusahaan yang lebih kecil sering menggunakan dokumen ini untuk mencari dana di pasar modal untuk membiayai studi-studi selanjutnya. (Ingat kasus Bre-X/Busang!).
3. Studi Kelayakan
Sering pula disebut sebagai bankable feasibility study. Hasilnya merupakan suatubankble document yang hampir selalu ditujukan untuk mencari modal untuk membiayai proyek tersebut. Karena itu, dokumen yang dihasilkan ini biasanya disebarluaskan pula di luar perusahaan.
Semua aspek utama harus dibahas dalam tahap ini. Hampir semua aspek tambahan harus dibahas pula.
3.2  Biaya Perencanaan
Biaya perencanaan (Lee, 1984) bervariasi bergantung kepada ukuran dan faktor alamiah proyek, tipe dari studi yang dilakukan, jumlah alternatif yang harus diteliti dan sejumlah faktor lain.
Atau bisa dinyatakan dalam persamaan berikut :
Biaya = f (ukuran & sifat dari proyek, jenis studi, jumlah
alternatif yang diinvestigasi, dll).
Dalam rangka menghitung biaya atau bagian teknik dari studi tidak termasuk seperti ongkos pemilikan seperti ongkos pengeboran eksplorasi, uji metalurgi, lingkungan dan studi hukum, atau studi pendukung lainnya, biasanya dinyatakan sebagai persentase dari biaya modal dari proyek :
Studi konseptual  =  0,1 – 0,3 % dari biaya total
Studi pra kelayakan     =  0,2 – 0,8 % dari biaya total
Studi kelayakan  =  0,5 – 1,5 % dari biaya total
3.3  Akurasi dari Estimasi
3.3.1 Tonase dan kadar
Pada tahap studi kelayakan, karena pengambilan sampel yang banyak dan pemeriksaan yang berulang, kadar rata-rata dari penambangan dari beberapa tonase yang diumumkan, disukai karena diketahui memiliki limit yang dapat diterima, katakanlah 5%, dan diturunkan dari metoda statistik yang standar. Walaupun tonase yang pasti dari bijih mungkin untuk tambang terbuka diketahui jika pemboran eksplorasi dari permukaan, dalam kenyataannya tonase ultimat dari banyak endapan bervariasi karena ia tergantung pada biaya harga dihubungkan dengan panjang waktu proyek.
Dua standar yang penting yang dapat didefinisikan untuk sebagian besar tambang terbuka adalah :
1. Cadangan minimum bijih harus sebanding untuk keperluan yang dibutuhkan untuk seluruh tahun Cash Flow yang diproyeksikan dalam laporan studi kelayakan haruslah diketahui dengan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
2. Sebuah tonase ultimat yang potensial, diproyeksikan berlanjut dan optimistik, seharusnya dikalkulasikan dengan baik untuk mendefinisikan area tambahan yang berpengaruh untuk penambangan, dan dimana dumping area serta abngunan pabrik musti diletakkan.
3.3.2  Unjuk kerja
Unit-unit dari penambangan open pit sudah memiliki rate unjuk kerja yang stabil dan biasanya dicapai jika bekerja dalam organisasi yang baik dan pengorganisasian alat (misal Shovel dan Truck) secara tepat. Unjuk kerja akan terganggu jika pekerjaan tambahan (pengupasan tanah penutup dalam sebuah pit) tidak mencukupi. Pemeliharaan harus dilakukan dan pekerjaan ini harus dijadwalkan secara baik dan disediakan dalam laporan studi kelayakan.
3.3.3   Biaya
Beberapa mata biaya, terutama ongkos oeprasi di lapangan, hanya berbeda sedikit dari tiap tambang dan dapat diketahui secara detail. Beberapa mungkin unik atau sukar untuk diperkirakan. Umumnya akurasi dalam modal atau estimasi biaya operasi kembali kepada akurasi dalam kuantitas, kuota yang ada atau unit harga,  kecukupan ketentuan untuk ongkos tidak langsung dan overhead. Tendensi terakhir menunjukkan adanya batas yang meningkat.
Akurasi dari modal dan estimasi dari biaya operasi meningkat ketika proyek meningkat dari studi konseptual ke pra kelayakan dan tahap studi kelayakan. Normalnya range yang bisa diterima untuk akurasi diberikan sebagai berikut :
Faktor kesalahan dari studi konseptual + 30% dari biaya total
Faktor kesalahan dari pra studi kelayakan + 20% dari biaya total
Faktor kesalahan dari studi kelayakan + 10% dari biaya total.
3.3.4   Harga dan perolehan
Pendapatan selama umur tambang adalah kategori utama dari uang. Itu harus membayar seluruhnya, termasuk pembayaran kembali dari investasi awal dari uang. Krena pendapatan adalah dasar yang terbesar dalam mengukur faktor ekonomi tambang sehingga lebih sensitif mengubah penerimaan daripada mengubah faktor-faktor lain dari jenis-jenis pengeluaran.
Penerimaan ditentukan oleh kadar, recovery, dan harga dari produk metal. Oleh karenanya, harga adalah: (a) sejaun ini sangat sulit untuk estimasi dan (b) suatu jumlah yang besar diluar dari kontrol estimator. Walaupun mengabaikan inflasi, harga pembelian secara lebar bervariasi terhadap waktu. kecuali komoditi yang bisa dikontrol dengan tepat, mereka mengarah untuk mengikuti bentuk siklus.
Departemen pemasaran harus menginformasikan hubungan suplai dan permintaan dan pergerakan harga metal. Mereka dapat juga menyediakan harga rata-rata metal di luar negeri dalam harga dolar sekarang, baik kemungkinan maupun konservatif. Harga terakhir berkisar 80% dari kemungkinan atau lebih. Idealnya, walaupun pada harga konservatif, harus tetap menguntungkan.

7.  CHECKLIST DATA AWAL YANG HARUS DIKUMPULKAN

Pada awal tahap perencanaan untuk setiap proyek (tambang) yang baru, terdapat banyak faktor dari berbagai jenis yang harus dipertimbangkan. Beberapa faktor tersebut dapat dengan mudah diperoleh, sedangkan beberapa faktor lain diperoleh dengan suatu keharusan melakukan studi yang mendalam (misalnya geometri pit).
Untuk menghindari ketidaklengkapan data, maka sebaiknya dibuat suatu checklist (rebel, 1975, “Field Work Program Checklist for New Properties”).
Checklist Item

1.   Topografi

  1. USGS maps  ®  1 : 500      1 : 1000
b.  Special Aerial or lamd survey establish control stations

2.  Kondisi iklim (Climate condition)

a.  Ketinggian
b.  Temperatur  ®  rata-rata bulanan sudah cukup.
c.  Prespitasi (untuk penirisan)
  • rata-rata presipitasi tahunan
  • rata-rata curah hujan bulanan
  • rata-rata Run-off (keadaan normal dan flood/banjir)
d.  Angin, maks, tercatat dalam arah.
e.  Kelembaban.
f.  Delay.
g.  Awan, fog.

3.  Air

a.  Sumber : mata air, sungai, danau, bor.
b.  Ketersediaan : hukum, kepemilikan, biaya.
c. Kuantitas : ketersediaan perbulan, kesempatan aliran, kemungkinan lokasi bendungan.
d.  Kualitas : sampel, perubahan-perubahan kualitas, efek kontaminasi.
e.  Sewage Disposal Methode.

4.  Struktur Geologi

a.  Dalam daerah tambang.
b.  Disekeliling daerah tambang.
c.  Kemungkinan gempa bumi.
d.  Akibat pada slope (maks. slope).
e.  Estimasi dan kondisi fondasi.

5.  Air Tambang

a.  Kedalaman.
b.  Konduktivitas.
c.  Metode Penirisan.

6.  Permukaan

a. Vegetasi : tipe, metode pembabatan, biaya.
b. Kondisi yang tidak biasa : danau, endapan deposit, pohon-pohon besar.

7.  Tipe/Jenis Batuan (Bijih, overburden)

a.  Sample untuk uji kemampuan dibor.
b. Fragmentasi : Hardness, derajat pelapukan, bidang-bidang diskontinu, kecocokan untuk jalan.

8.  Lokasi untuk Konsentrator.

a.  Lokasi tambang, Haul up hill, down hill.
b.  Preparasi lokasi (cut, fill).
c.  Proses air : gravitasi, pompa.
d.  Tailing Disposal.
e.  Fasilitas pemeliharaan.

9.  Tailing Pond (daerah)

a.  Lokasi pipa.
b.  Alamiah, bendungan, danau.
c.  Pond overflow.

10. Jalan

a.  Peta jalan
b.  Informasi jalan-jalan yang ada :
·  lebar, permukaan, batas maksimum beban
·  batas maksimum load sesuai musim
·  pemeliharaan.
c.  Jalan yang dibuat (harus) oleh perusahaan
·  panjang
·  profile
·  cut and file
·  jembatan
·  pengkondisian tanah
·  dll.

11.    Power

a.  Ketersediaan (PLN) : kilovolt, jarak (terdekat), biaya.
b.  Kabel ke SIB.
c.  Lokasi sub station.
d.  Kemungkinan untuk power station sendiri.

12.    Smelting

a.  Ketersediaan pabrik.
b.  Metode pengapalan : jarak, alat angkut, awak, reet, dll.
c.  Biaya.
d. Aspek terhadap lingkungan.
e.  Rel KA, dok.

13.    Kepemilikan lahan

a.  Kepemilikan : begara, pribadi.
b.  Tata guna lahan.
c.  Harga tanah.
d.  Jenis oplians : sewa, beli, dll.

14. Pemerintah

a.  Suasana politik.
b.  Hukum, UU pertambangan.
c.  Keadaan lokal.

15. Kondisi ekonomi

a.  Industri utama yang ada, berpengaruh ke infrastruktur.
b.  Kesediaan tenaga kerja.
c.  Skala penggalian.
d.  Struktur pajak.
e.  Ketersediaan sarana, toko, rumah sakit, sekolah, rumah.
  1. Ketersediaan material, termasuk bensin, semen, gravel.
g.  Pembelian.

16.    Lokasi Pembuangan (waste) : tambang, rumah sakit, perumahan

a.  Jarak.
b.  Profil jalan.
c.  Kekungkinan proses lebih lanjut.

17. Aksessibilitas dari kota utama ke luar

a.  Metode transportasi.
b.  Realibilitas dan transportasi yang tersedia.
c.  Komunikasi.

18. Metode mendapatkan informasi

a.  Past records (pemerintah).
b.  Memelihara alat-alat komunikasi
c.  Mengunpulkan conto.
d.  Pengukuran dan pengamatan lokasi lapangan.
e.  Survey lapangan
  1. Layout pabrik.
g.  Check untuk load informasi
h.  Check hukum lokal.
  1. Personal inquiry dan observasi suasana politik dan ekonomi.
  2. Peta-peta.
k.  Cost inquiries.
  1. Material.
m.  Membuat utility, avaliability, inquiries.

Sekian dulu postingan Perencanaan Tambang kali ini miners blogger 
Semoga bermanfaat buat kalian semua 
#salamtambang

Engineering dalam Industri Manufaktur

Engineering dalam Industri Manufaktur

Pendahuluan
Engineering adalah suatu ilmu keteknikan yang dipraktekkan ke dalam kehidupan kita untuk mempermudah kita dalam melakukan sesuatu. Engineering mampu mengatasi permasalahan yang ada di sekitar kehidupan sehari-hari dari hal yang terkecil hingga besar dan membuat peralatan yang bertujuan untuk memudahkan pekerjaan manusia, itulah konsep dasarnya.
Bahtera nabi Nuh, Bangunan Stonehenge yang dibuat pada tahun 2500-2000 SM, Pembangunan Pyramida Giza oleh bangsa Mesir kuno sekitar tahun 2560 SM yang berlangsung selama 20 tahun, pembangunan Candi Borobudur pada Abad 9, Prakitan komputer generasi pertama pada tahun 1941, Peluncuran wahana antariksa Galileo yang mampu menjelajah atmosfer Jupiter, dan banyak  fakta lainnya, yang membuktikan bahwa engineering  mengiringi sejarah kehidupan manusia mulai jaman purba.

Sejak penemuan Mesin uap oleh James Watt tahun 1764 dan menjadi pendorong terjadinya Revolusi Industri pada Abad 18, Engineering menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam perkembangan manufacture dunia. Sejak saat itu, penggunaan mesin-mesin dalam industri menjadi kebutuhan mutlak dalam aktivitas produksi dan manufacturing.

Peran Engineering  dalam Perusahaan Manufaktur 
Bisa dipastikan setiap perusahaan manufaktur (perusahaan yang memproduksi barang) memiliki fungsi engineering. Beberapa  Perusahaan menggunakan istilah Maintenance, dalam konteks manufacturing, istilah-istilah ini memiliki arti yang kurang lebih sama. Jadi dalam artikel ini, saya akan menggunakan kedua istilah ini. 

Engineering  dalam Industri manufakture nasional memiliki nasib yang sedikit berbeda dibanding saudara kandungnya “ bagian produksi “, Coba tebak, dimana biasanya ruang maintenance di dalam layout pabrik. Di belakang bukan ? Mirip denah rumah di jawa, Ruang tamu didepan, dapur dibelakang. (beda lagi kalau di Bali, Dapur yang di depan). Tidak semua memang. Beberapa perusahaan Jepang yang menerapkan Total Produktif Maintenance (TPM) memiliki  gaya yang berbeda. Mereka biasanya menggabungkan struktur Maintenance  dengan produksi. Imbasnya, ruang maintenance benar-benar di dalam lingkup area produksi. Kondisi ini seperti tuntutan, dalam TPM, hampir semua personel produksi memiliki fungsi maintenance, tentunya dengan ruang lingkup yang kecil dan sudah ditentukan, tidak heran hampir disemua mesin bertebaran SOP perawatan mesin standard yang biasa dilakukan oleh operator, tidak perduli dia laki-laki, perempuan, anak muda, sampai “dadong-dadong” (Bahasa Bali, arti : nenek-nenek), menjadi kewajiban mreka untuk menjalankannya.

SOp dalam TPM

Meskipun  memiliki Maintenance dalam setiap divisi produksi, tetap saja perusahaan jenis ini memerlukan Maintenane Central. (Dan tetap posisinya dibelakang. Lho …) koq masih perlu ? bukannya mereka sudah terapkan TPM ????  Eittt, tunggu dulu, Memang struktur Maintenance dalam Produksi efektif untuk menunjang  ativitas produksi dalam menangani fungsi-fungsi maintenance reguler. Seperti : 1)aktivitas Inspection, 2)  lubrication,3) parts replacement, 4) Overhoul, 5) Regular machine problem solving, dan 5) Technical Improvement.
Akan tetapi, Jika terkait dengan pembuatan spare parts/machining yang memerlukan  mesin-mesin workshop dan memerlukan lead time pengerjaan yang relatif lama, sangat tidak efisien jika setiap divisi produksi memilikinya. Untuk itu  maintenance central/factory tetap diperlukan.

Dalam perkembangannya, seiring dengan perkembangan perusahaan, aktivitas workshop ini dapat berevolusi menjadi sebuah divisi machinery (perusahaan permesinan), tidak hanya sebagai parts making, tapi menjelma menjadi machine maker atau pembuat mesin. Machinery, tidak hanya membuat mesin-mesin “standard”, namun mampu merancang dan merakit (design & Assembling) type-type  permesinan yang sudah ter-upgrade, dalam memenuhi kebutuhan divisi produksi, up-grading ini meliputi; 1) kapasitas yang semakin besar, 2) tingkat presisi produk yang semakin tinggi, 3) kemudahan dalam perawatan, 4) keamanan dan kemudahan dalam pengoperasian, 5) Ketahanan mesin / Realibility yang semakin baik, 6) Design yang menarik, modern, bahkan futuristik, 7) Terintegrasi dengan Sistem Informasi .
Machinery Division  biasanya dimiliki oleh perusahaan yang memiliki skala pasar dan operasi yang besar.

Posisi Bagian Maintenance dalam lay out perusahaan tadi, anggap saja tidak penting (dan memang tidak penting), posisi ruang di bagian belakang saya pikir jauh lebih pas, karena bagian ini  identik dengan penyimpanan mesin/parts  tidak terpakai, dan "terlihat tidak bersih/clean". Namun gambaran perusahaan Jepang yang saya ceritakan tadi, mudah-mudahan memberikan sedikit masukan bagi kita, bahwa ruang maintenance tidak identik dengan ' tidak clean", tetapi bisa menjadi bagian integral dalam layout produksi, meski untuk kategori food manufacturing. Bahkan pernah saya jumpai, seorang Teknisi dari luar, melakukan overhoul besar dengan menggunakan wearpack serba putih, dengan tangan yang clean.Sekali lagi, tidak ada pembenaran jika seorang teknisi maintenance identik dengan kerja kotor dan berlumuran oli.  

Bisa dipastikan bahwa setiap perusahaan manufacture memiliki fungsi engineering, meskipun dengan format dan size yang berbeda. Meski berbeda, engineering/maintenance perusahaan pada umumnya memiliki 6  Lingkup fungsi sebagai berikut :
1.       Mechanical
2.       Electrical
3.       Installation
4.       Utility
5.       Instrumentation
6.       Workshop

(saya berpikir memisahkan fungsi mechanical dan electrical tidak begitu efektif. Jauh sangat-sangat efektive jika basic skill  personel maintenance meliputi mechanical skill dan electrical skill, syukur jika sampai kedalam instrumentation skill seperti programable logic control/PLC, dalam perkembangannya mesin-mesin manufacture modern tampak lebih compact dan mekanismenya banyak menggunakan kombinasi sistem pneumatic, hidrolic dan programable control )

Penjelasannya singkatnya  kurang lebih sebagai berikut :
Mechanical skill,  meliputi perawatan dan perbaikan diantaranya ; 1) sistem mekanis  (komponen-komponen yang dengan sinkron melakukan dua jenis gerakan mekanis, yaitu translasi dan rotasi), 2) sistem hidrolik, 3) sistem pneumatik, 4) sistem burner/pengapian

Eletrical Skill, Saya cenderung mengartikannya kedalam pengertian electric arus kuat. Basic Skill personelnya meliputi ; Meliputi 1)pemahaman akan logical electrical control, 2) memahami  jenis-jenis  parts  electric arus kuat ( komponen input,seperti stabilizer, capacitor bank, Trafo, Safety/Fuse/MCB, komponen kontrol seperti Push botton, contactor, Relay, Switch, all kind of sensor, dll, hingga komponen output seperti motor listrik, robotic cilinder, solenoid valve, dll ), 3) Mengerti  electrical safety standard

Installation, Personel yang melakukan fungsi ini,  umumnya memiliki kemampuan dalam 1) menginstall dan melakukan set up mesin. Beberapa suplier memberikan jasa instalasi komplet dengan biaya pembelian. Tapi jauh lebih baik, jika interaksi antara personel maintenance dan mesin sudah ada sejak instalasi awal. Karena dengan menginstall satu persatu, akan memberikan gambaran teknis yang lebih detail  mengenai sistem operasi mesin. Akan sangat membantu dalam analisa dan problem solving. Fungsi ini memiliki skill complete dalam mechanical, electrical dan instrumentasi. Tidak hanya install mesin baru, tapi 2)  installasi jalur pipa angin, pipa air, pipa steam yang masuk dalam Main Pipe, juga masuk dalam lingkup kerjanya. Semakin banyak divisi-divisi produksi, jika masing-masing divisi ini memerlukan suplay udara bertekanan, water suplay, Steam, dll. Maka fungsi installation ini yang memastikan jalur distribusinya  ready. Mustahil jika masing-masing divisi mengelola jalur piping ini secara independen.

Utility, fungsi ini terkait dengan mesin-mesin sumber tenaga, dan mesin transfer energi. Diantaranya; Diesel Generator Set / Genset, Compressor, Boiler, Sistem pendingin ( Chiller, Frezzer, Blast Frezeer, Super Frezeer ).
Instrumentation, fungsi ini lebih pada sistem electronic arus lemah / DC. Tentunya personel maintenance harus memahami  bahasa pemograman untuk PLC, seperti omron, mitsubishi, allen bradley, dll. Tidak hanya memahami beberapa bahasa pemrograman untuk bisa berinteraksi dengan PLC.  Tingkat logika dalam mendevelope hingga menganalisa permasalahan yang dimiliki personel ini, benar-benar sangat sistematis dan terstruktur. Saya tidak menyebut spesies ini hebat, tapi lebih senang menyebutnya “sangat unik”, tidak heran  perusahaan harus mengeluarkan biaya besar untuk merekrut orang-orang ini. 

Workshop, Saya sudah menyinggung dalam alinea sebelumnya. Dari pengalaman, workshop atau biasa disebut Bengkel tidak terbatas sebagai pensuplai parts secara internal prusahaan. Ini benar-benar terkait langsung dengan maintenance cost. Bukan  hal yang mengherankan, ketergantungan mesin-mesin industri kita terhadap parts import sangat tinggi, oh bukan … tetapi sangat sangat tinggi. Terkadang saya berpikir, Suplier Mesin ini tidak hanya menjual mesin, tapi kontinuitas order spare parts menjadi pemasukan yang menguntungkan. Jika kita Import Spare Parts, kita tidak hanya bayar harga spare parts, tapi kita harus keluarkan lebih dari  20%  dari harga jualnya untuk keluarkan makhluk-makhluk ini dari Custom.  Jadi benar-benar sangat meringankan jika  beberapa parts bisa dibuat secara mandiri di workshop. Tidak hanya itu, meskipun parts ini kita buat di bengkel-bengkel atau machinery di dalam negeri,  harga material dan jasa pembuatannya kadang tidak masuk akal ( dan menjengkelkan ). Ada perlengkapan dasar yang harus dimiliki di workshop. Diantaranya Mesin Bubut, Welding, Gerinda, Bor, Miling, Plate Cutting.  Dan tentunya operator multi skill untuk mengoperasikannya. Jika demand semakin besar, tinggal pertambah saja  quantitynya. Jika berada di level Departemen, Install CNC perlu dipertimbangkan. Intinya, workshop tidak hanya sangat membantu dalam suplay spare parts tapi memiliki kontribusi yang sangat besar dalam menekan biaya maintenance.
Setiap perusahaan memiliki strategi yang berbeda yang berpengaruh pada struktur organisasi maintenance/engineeringnya-nya. Tepat atau tidak nya suatu format organisasi maintenance tentunya harus dilihat dari  efektivitas supportingnya terhadap bagian yang menjadi customernya. Saya ambil contoh, bagian Produksi, sebagai customer dari Bagian Maintenance. Yang termudah yaitu pencapaian target volume produksi, target quality produksi. Sedang di tingkat perusahaan, bisa dilihat kontribusi maintenance cost terhadap Harga Pokok Produksi (HPP). ImplementasiTeknik Statistik Dasar (Check List, Pareto, Histogram, Fish Bone Diagram) akan sangat membantu jika diterapkan dengan benar.

Berbicara format struktur organisasinya, Industri minyak, gas dan pertambangan tentu berbeda dengan Industri makanan, obat-obatan. Masing-masing bidang manufacturing memiliki standard yang spsific terkait denan kendali proses. Disamping memperhitungkan strategi utama perusahaan, adanya standard proses ini secara tidak langsung juga berkontribusi dalam membentuk format engineering di setiap perusahaan. SOP Teknisi Pengeboran lepas pantai ( Rig off shore ), memiliki standard yang lebih ketat dari on shore dalam hal safety. Dan engineering dalam industri farmasi memiliki standard higienis dan sanitasi yang lebih tinggi dibanding industri otomotif, dan seterusnya. Tidak ada standard format  baku dalam hal ini.

Problem Turn Over pada Teknisi
Sepintas Bagian Engineering atau Maintenance berisi orang-orang multi high skill. Untuk pernyataan ini, saya setuju, meski tidak sepenuhnya. Orang-orang dibagian ini terbiasa bekerja secara one man show. Begitu pula dengan bagian engineering, orang-orang dengan keahlian khusus ini terkadang lebih nyaman jika  bekerja sendiri.
Tidak pas sebenarnya kalau saya katakan engineer lebih nyaman bekerja sendiri. Tapi ini adalah realitanya, saat mmerlukan teknisi lain. Teknisi ini lebih pada sebagai Helper atau teknisi pembantu, dengan pertimbangan safety saat kerja dan operasionalnya.

Dari sisi mentalitasnya, ada dua type teksnisi. Type Engineer dan Type Tukangnya Engineer / Helper.
Type kesatu yaitu Engineer tidak berarti harus insinyur sajana teknik, tapi memiliki konsep kerja seorang engineer, diantaranya memiliki minat dalam rekayasa teknik, dan termotivasi untuk menjaga dan meningkatkan performance mesin. Teknisi yang masuk di type ini, melihat knowledge dan skill sebagai modal, ada minat yang sangat besar untuk memperdalam spesialisasinya dan  berusaha menguasai bidang keilmuan lain yang dapat menunjang kerja mereka meski di tingkat basic. Misal seorang Teknisi mekanik, juga menguasai electric, instrumentasi, drawing design, manajemen perawatan, dll. Jadi benar-benar dasar ilmunya menunjang untuk melakukan rekayasa teknik dan koordinasi lintas bidang keilmuan.
Type kedua yaitu Type Tukangnya Engineer/Helper, jangan salah lho, Sarjana Teknik-pun memiliki karakter seperti ini. Teknisi yang masuk di kategori ini ; 1)lebih mengutamakan pengalaman dibanding dengan kedalaman proses berpikir dalam analisa masalah, 2) melihat bidang keilmuan dari sisi yang sangat sempit Mekanik ya mekanik, electric ya electric, dst. Tidak ada minat untuk mempelajari bidang lain, sehingga memiliki  banyak keterbatasan dalam melakukan rekayasa teknik. Meskipun bisa tidak lebih dari menjadi "Helper".

Yang saya maksud orang dengan keahlian khusus, yaitu Teknisi yang masuk Type satu. Perusahaan tidak akan segan memberikan penawaran tinggi untuk merekruitnya, apalagi mereka berada di rentang usia muda yaitu usia 27 - 30 tahun.
Disinilah masalahnya, yaitu “ Pembajakan tenaga kerja “.Faktor Ekonomi menjadi alasan utama, ahli-ahli mesin berkeahlian khusus  ini berpindah dari  satu tempat ke tempat lainnya. 

Apa yang kemudian  terjadi, perusahaan yang ditinggal harus mencari ahli pengganti dan mulai dari dari awal untuk proses adaptasi. Dan Perusahaan yang dituju, was-was jika ditinggal pergi meski dengan resiko “ new  boss, new rule”, strategi lama terputus dan mulai dengan strategi baru.  Kenyataannya dunia Engineering menawarkan kesempatan untuk mengenal berbagai teknologi baru, berimprovisasi dan mengupgrade skill, dimana dari sudut pandang individu apa yang didapat (experience, kowledge, skill) akan berdampak langsung pada nilai jual. industri konvensional  sangat tergantung pada individu, namun industri modern lebih tergantung pada sistem. Sistem yaitu interaksi sinergis antara semua komponen terkait, ada didalamnya human resources, metode kerja

Ini akan menjadi permasalahan pastinya. Tapi tetap ada solusinya. Saya menyarankan denga;1) Dokumentasi, 2) Penerapan Sistem Penilaian Performance Berbasis obyektivitas Kinerja.
Dokumentasi jelas, semua permasalahan permesinan di mapping setelah itu menetapkan standard perbaikan.  Jika semua terdokumentasi, mulai dari Drawing Parts Mesin, Sistem operasional mesin, Problem, langkah Perbaikan, dan lain-lain terkait hal teknis lainnya,  Budaya One Man Show berangsur akan hilang, dan bergeser pada model kerja kolektive. Perklu diingat, dokumentasi maintenance banyak menyangkut hal yang sangat rahasia ( very confidential ), anda wajib memiliki mekanisme untuk menjamin  kerahasiaannya.
Penerapan Sistem Penilaian Performance Berbasis obyektivitas Kinerja. Dengan adanya sistem ini, Gap atau Selisih antara Skill standard dengan actual yang dimiliki akan terlihat secara obyektif. Kuncinya pada data, umumnya semua orang sudah merasa bekerja dengan baik dan benar, jika tidak berbicara data obyektif, akan banyak sekali misskomunikasi. Sistem TPM menyediakan formulasinya, tinggal diolah dengan MBO atau Performance Approval system lainnya. Setelah itu lakukan Trainning rutin untuk pembekalan Basic Skill, melatih urutan kerja, kemampuan analisa masalah, dll.

Terima Kasih & Semoga Bermanfaat