MENEJEMEN ALAT BERAT YANG BAIK
Setelah sebelumnya saya sudah menjelaskan macam-macam Alat Berat
dan pengaplikasiannya, sekarang saya akan berbagi ilmu tentang "Bagaimana
Cara Memenej Alat Berat Dengan Baik" .
Manejemen Alat Berat merupakan suatu proses menejemen terhadap
semua aspek alat berat sepanjang usia hidupnya mulai dari proses pemilihan
sampai peremajaan. Alat berat yang dimiliki oleh pelanggan adalah
benda produksi. Pelanggan membeli alat berat tersebut untuk
dipergunakan menghasilkan suatu hasil atau output yang memiliki nilai ekonomis.
Seringkali alat berat yang dimiliki oleh pelanggan merupakan alat kerja utama
yang dipergunakan oleh pelanggan dalam menjalankan bisnisnya. Sehingga alat
berat yang dioperasikan memiliki peran yang sangat menentukan dalam untung
ruginya usaha yang dijalankan.
Alasan kenapa kita harus mengelola alat berat yang dimiliki
selalu berpusat pada satu alasan pokok yaitu bagaimana kita bisa mendapatkan
keuntungan yang sebesar besarnya dari pengoperasian alat berat yang kita
miliki. Terdapat dua hal mendasaryang menentukan apakah keuntungan atau
kerugian yang akan didapat oleh pemilik alat berat.
Dua hal tersebut adalah
•Produksi (Ton, kWH, M3, dlsb)
•Biaya kepemilikan (Rp) dan biaya pengoperasian (Rp/Jam, Rp/Ton,
Rp/kWH, dlsb)
Apabila jumlah nominal hasil produksi lebih besar dari biaya
maka selisih yang didapat bisa dikatakan sebagaimargin atau selisih yang
disebut sebagai profit atau keuntungan. Semakin besar selisih yang didapat
makaartinya semakin besar keuntungan yang diperoleh. Apabila yang terjadi
adalah sebaliknya dimana secara nominal biaya lebih besar dibandingkan dengan
nominal produksi maka selisih yang ada bisa dikategorikan sebagai kerugian.
Dari paparan diatas maka tentu saja pengelolaan terhadap alat
berat yang dimilikii selalu diarahkan agar pemilik alat berat bisa memperoleh
produksi yang semaksimal mungkin dengan biaya yang seoptimum mungkin.
Untuk bisa memperoleh keuntungan yang diharapkan tentu saja pemilik
alat berat harus melakukan menejemen terhadap unit yang mereka miliki.
Serangkaian aktivitas dan proses menejemen tersebut hendaknya selalu berpedoman
pada tiga strategi pokok yang menjiwai seluruh proses menejemen yang dilakukan.
Ketiga hal tersebut adalah:
- Rancang dan operasikan alat agar selalu konsisten memenuhi
target produksi dan dengan biaya yang seoptimum mungkin. Ini adalah
marupakan strategi dasar bagi semua kegiatan produksi.
- Ketahui kinerja alat sesungguhnya mengandung pengertian
untuk selalu memonitor kondisi alat berat yang sedang dioperasikan.
- Optimalisasi kinerja alat dapat dilakukan apabila dua
strategi sebelumnya diatas sudah dilakukan. Strategi selanjutnya untuk
bisa meningkatkan keuntungan adalah dengan melakukan terobosan terobosan
baru berdasarkan data dan pengalaman sebelumnya.
Untuk merumuskan tiga strategi dasar tadimenjadi proses
menejemen yang bisa direalisasikan maka terdapat lima langkah menejemen yang
harus dilakukan, kelima hal tersebut adalah:
- · Menejemen Pemilihan Alat
- · Menejemen Pembelian
- · Menejemen Pengoperasian
- · Menejemen Perawatan
- · Menejemen Peremajaan
Kelima hal tersebut hendaknya dilakukan secara terkoordinasi dan
berkesinambungan.
Menejemen Pemilihan
Apabila mendapat suatu pekerjaan yang membutuhkan alat berat
maka langkah yang berikut dilakukan tentunya adalah memilih alat berat seperti
apa yang akan digunakan.
Ruang lingkup permasalahan yang harus dipikirkan pada saat
proses pemilihan tercakup dalam tiga hal pokok, yaitu:
- Metoda kerja yang sesuai dengan kondisi lapangan. Artinya
adalah bahwa kondisi medan dan lingkunganlah yang menentukan metoda kerja
apa yang akan dipilih.
- Target produksi. Setelah menentukan metoda operasi yang
akan dilakukan maka tentunya bisa dihitung perkiraan produksi yang
diharapkan dapat diperoleh per satuan waktu tertentu.
- Sesuaikan jenis, kemampuan, kelengkapan serta jumlah alat.
Dari metoda operasi dan target produksi yang sudah ditentukan sebelumnya
tersebut maka selanjutnya dapat dipilih jenis alat berat apa yang cocok.
Perlu dipikirkan juga alat kerja tambahan (attachment) apa saja yang
mungkin perlu dipasang serta jumlah alat beratnya itu sendiri.
- Pertimbangan yang pertama adalah spesifikasi dari alat
berat tersebut. Spesifikasi ini juga menyangkut features yang dimiliki
oleh alat berat tersebut.
- · Produktifitas, waktu dan biaya menjadi penting karena
berkaitan langsung
dengan keandalan dan ketahanan kerja alat berat. Semakin andal
alat
tersebut artinya adalah produktifitas yang tinggi dan
ketahanan terhadap
gangguan yang timbul.
- · Fleet match, atau kesesuaian armada artinya adalah
konfigurasi armada alat
berat yang sesuai. Baik segi jumlah maupun kapasitas
kerja.
- Job study dan demo perlu dilakukan apabila hasil
perhitungan teoritismemerlukan
pembuktian yang lebih kuat.
- · Sebagai pertimbangan terakhir mungkin juga dilakukan
perbandingan antara
dua atau lebih unit yang memiliki jenis dan spesifikasi yang
sama tapi dari
brand yang berlainan.
Berdasarkan pertimbangan pertimbangan tersebut akan didapat alat
berat yang tepat.
Sebagai tujuan akhir dari menejemen pemilihan tersebut tentunya
adalah calon pemilik alat berat akan memiliki unit yang memberikan keuntungan
optimum karena alat berat yang dipilih mampu memenuhi target produksi secara
konsisten, efisien dan
berkesinambungan.
Menejemen Pembelian
Setelah menentukan pilihan terhadap unit yang akan dioperasikan
maka tahap berikutnya adalah melakukan serangkaian kalkulasi finansial untuk
menentukan metoda finansial apa yang paling efisien.
Perhitungan yang dilakukan bisa merujuk pada analisa investasi
alat yang memasukan faktor-faktor biaya dan
pendapatan yang akan muncul sepanjang pengoperasian alatberat. Analisa
investasi alat juga mempu memberikan perbandingan analisa investasi antara dua
buah alat berat berbeda merk dengan kapasitas yang sama.
Dari analisa itu akhirnya dapat ditentukan metoda apa yang
paling sesuai dengan kemampuan perusahaan dalam membiayai pembelian.
Selanjutnya tidak ketinggalan tentunya harus dipikirkan juga
bagaimana mekanisme kontrol biaya apabila nanti alat berat tersebut sudah
dimiliki dan dioperasikan. Hal ini cukup penting untuk melihat apakah skema
analisa investasi yang sebelumnya dihitung bisa diterapkan pada operasi kerja
sesungguhnya.
Seperti sudah dijelaskan sebelumnya bahwa analisa investasi alat
akan memberikan perkiraan akurat mengenai skema pemasukan dan pengeluaran yang
akan timbul selama pengoperasian alat. Analisa investasi alat telah memasukan
faktor-faktor produktivitas, kemampuan kesiapan alat, biaya (harga awal,
perawatan, perbaikan dan rekondisi), harga jual alat bekas dan faktor kemampuan
keuangan perusahaan.
Selanjutnya walaupun tidak masuk kedalam perhitunga analisa
investasi alat ada satu faktor lagi yang harus diperhatikan yaitu dukungan
purna jual dari alat berat tersebut.
Dukungan purna jual yang baik sangat diperlukan untuk memastikan
agar alat yang dimiliki bisa menghasilkan keuntungan yang diharapkan.
Tujuan dari semua proses analisa diatas tentunya adalah agar
alat yang dibeli dapat memberikan keuntungan finansial yang konsisten sepanjang
usia pemakaiannya. Dari analisa yang telah dilakukan akan terlihat bahwa untuk
mendapatkan keuntungan yang optimum dari pengoperasian alat para calon pemilik
alat berat hendaknya jangan terpaku pada harga dari alat berat tersebut. Hasil
analisa akan memperlihatkan bahwa selain dari harga alat masih banyak faktor
lain yang berpengaruh, seperti: biaya pengoperasian, biaya tidak produktif dll.
Kesalahan yang umumnya dilakukan oleh para calon pemilik alat
berat adalah terlalu menitik beratkan pada biaya awal yang harus dikeluarkan
atau harga belinya. Hal itu terjadi dengan pertimbangan bahwa semakin murah
harga alatnya maka makin besar potensi keuntungan yang akan didapat.
Dengan cara pandang seperti itu maka bisa diibaratkan kita
sedang melihat gunung es di lautan, yang terlihat adalah puncak gunung es yang
ada di permukaan laut. Puncak gunung es tersebut adalah harga beli alat baru.
Dibawah gunung es tersebut sebenarnya terdapat massa es yang jauh lebih
besardari massa es yang kelihatan di permukaan. Massa es di bawah permukaan
laut itu bisa diibaratkan sebagai faktor-faktor lain yang memiliki pengaruh
lebih besar terhadap potensi keuntungan yang akan didapat.
Menurut survey yang pernah dilakukan terdapat
lima faktor yang mempengaruhi keuntungan yang akan didapat. Kelima faktor
tersebut adalah:
- Harga
unit
- Harga
jual alat bekas
- Biaya
operasi
- Kesiapan
alat
- Produktifitas
Dari survey tersebut juga dilakukan penelitian
mengenai besarnya pengaruh dari masing-masing faktor tadi terhadap potensi
keuntungan. Apabila terjadi perubahankuantitaif sebesar satu persen
dari masing-masing faktor diatas ternyata hasilnya cukup mengejutkan, seperti
tampak pada gambar diatas. Perubahan sebesar satu persen terhadap harga beli
unit baru ternyata hanya akan memberikan pengaruh sebesar antara 0,5% sampai
0,9% terhadap potensi keuntungan yang akan didapat.
Dari survey yang didapat terlihat bahwa faktor
yang memberikan pengaruh paling besar terhadap keuntungan adalah kesiapan alat
dan produktivitas.
Kesimpulan yang bisa ditarik dari hasil penelitian tersebut
lebih menguatkan teori gunung es yang sebelumnya telah disinggung yaitu bahwa
para calon pemilik alat berat jangan terpaku pada harga pembelian unit
saja. Survey tersebut juga
memberikan gambaran skala prioritas faktor-faktor manakah yang harus kita
perbaiki untuk meningkatkan keuntungan.
Menejemen Pengoperasian
Selanjutnya dengan asumsi bahwa unit yang dibeli sudah sampai
ditempat kerja maka langkah selanjutnya adalah bagaimana melakukan menejemen
pengoperasian yang baik. Ruang lingkup manajemen pengoperasian ini sebenarnya
sebagian telah dipikirkan saat melakukan pemilihan alat berat. Yang menjadi
permasalahan adalah bagaimana merealisasikan rencana kerja tersebut dengan
selalu melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan perubahan yang terjadi.
Perubahan tersebut misalnya adalah kondisi lingkungan kerja yang selalu dinamis
dan berkembang, faktor keselamatan dan target produksi yang ingin
dicapai untuk satu periode tertentu.
Faktor kesiapan alat akan menjadi hal yang sangat penting. Dari
sini hendaknya mulai difahami juga bahwa tidak mungkin didapat tingkat kesiapan
alat yang tinggi tanpa adanya proses perawatan yang baik terhadap alat berat
yang dioperasikan. Ini berarti bahwa harus terjalin pengertian yang baik antara
bagian produksi yang bertanggung jawab untuk masalah menejemen pengoperasian
dengan bagian perawatan yang bertanggung jawab untuk merawat alat berat
tersebut.
Dalam malakukan menejemen pengoperasian alatberat terdapat
faktor-faktor yang selalu secara konsisten harus dipertimbangkan. Faktor-faktor
tersebut adalah:
- Kondisi
kesiapan alat. Untuk
dapat merealisasikan semua rencana berkenaan dengan pengoperasian alat
berat maka faktor kondisi dari alat tersebut akan sangat berpengaruh. Unit
yang kondisinya tidak siap 100% tentunya tidak mungkin akan dapat
menghasilkan kinerja 100% juga.
- Metode
kerja. Hendaknya selalu
menyesuaikan dengan kondisi dinamis dari medan yang dihadapi.
- Ketrampilan
operator. Hal ini tidak bisa
ditawar lagi tentunya. Ketrampilan operator sangat berpengaruh terhadap
produktivitas yang dihasilkan.
- Cycle
time, waktu siklus yang
dimaksud disini adalah waktu yang dibutuhkan oleh alat berat untuk
melakukan serangkain proses pada saat bekerja. Waktu siklus antara lain
dipengaruhi oleh: medan kerja, jarak yang harus ditempuh atau material
kerja yang dihadapi. Perubahan waktu siklus juga akan sangat mempengaruhi
komposisi dan jumlah alat yang bekerja di satu lokasi.
- Komunikasi
antar para operator dilapangan, para
operator dengan pengawas dan bagian perawatan juga harus menjadi bahan
pertimbangan. Tanpa komunikasi yang baik maka tidak akan didapat kerjasama
kelompok yang baik. Dalam suatu armada alat berat maka hasil yang
diperoleh selalu merupakan hasil kerja sebuah kelompok.
Setelah semuanya bisa didapat yang berikutnya tidak boleh
dilewatkan adalah bagaimana mengontrol semua proses pengoperasian yang sedang
terjadi di lapangan. Sistem kontrol yang baik akan bisa menjaga konsistensi
hasil kerja dan kekompakan kerjasama tim.
Tujuan dari menejemen pengoperasian adalah mengoptimalkan
produktivitas tiap alat berat yang dioperasikan agar selalu dapat memenuhi
target produksi dengan biaya yang seoptimal mungkin.
Menejemen Perawatan
Pada penjelasan sebelumnya telah ditekankan bahwa
kesiapan alat dan produktivitas yang tinggi tidak akan mungkin didapat tanpa
melakukan proses perawatan yang semestinya. Sehingga ruang lingkup pemikiran
yang berkaitan dengan menejemen perawatan adalah bagaimana melakukan
serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk menjaga alatberat yang dimiliki
selalu berada dalam kondisi terbaiknya, meminimalkan atau bahkan menghilangkan
berhentinya unit karena kerusakan mendadak.
Apabila hal tersebut bisa terlaksana maka tentunya potensi
keuntungan yang akan didapat akan meningkat. Untuk melakukan proses perawatan
yang cerdas maka terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, hal-hal
tersebut adalah:
- Biaya
yang timbul akibat malakukan proses perawatan adalah hal yang tidak bisa
dihindari. Yang harus dihindari adalah melakukan penekanan biaya perawatan
tanpa melakukan pengkajian mendalam sebelumnya.
- Faktor
biaya tidak semata mata mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan untuk
melakukan perawatan, tapi juga kerugian yang timbul karena unit tidak
bekerja. Karena itu hendaknya selalu dipikirkan cara bagaimana melakukan
perawatan dengan waktu yang sesingkatmungkin dengan tanpa mengurangi
kualitas hasil pekerjaannya dan tanpa menimbulkan biaya tambahan.
- Strategi
perawatan adalah langkah proaktif yang dilakukan agar proses perawatan
yang dilakukan bisa secara konsisten mencapai tujuannya.
- Perencanaan
adalah proses penjadwalan dan proses mempersiapkan semua sumber daya yang
diperlukan untuk melakukan perawatan secara effisien.
- Pelaksanaan
pekerjaan perawatan dilaksanakan oleh tenaga teknisi. Kualitas dari
pekerjaan adalah faktoryang harus secara konsisten dijaga dan terus
ditingkatkan.
- Komunikasi
juga merupakan hal yang harus dipertimbangkan, seperti juga pengoperasian
alat berat maka proses perawatan adalah suatu kerja kelompok. Komunikasi
harus terjalin baik antara para teknisi juga antara para teknisi dan kelompok
perencana dan kelompok penentu strategi.
Perawatan yang dilakukan juga bertujuan untuk mendeteksi dan
mencegah timbulnya kerusakan. Secara teknis tentunya pelaksanaan
perawatan jauh lebih mudah dan murah dibandingkan proses perbaikan. Dengan alasan
itulah maka proses inspeksi juga dikategorikan sebagai bagian dari kegiatan
perawatan.
Tujuan dari suatu proses perawatan secara
lebih terinci adalah untuk:
- Meminimumkan
atau bahkan menghilangkan unit berhenti beroperasi karena rusak mendadak (unscheduled
down time).
- Mengoptimalkan
usia komponen
- Meningkatkan
kesiapan alat
- Meningkatkan
potensi keuntungan
Fenomena gunung es juga rupanya terjadi pada proses perawatan.
Ditemukan banyak kasus dimana pemilik alat melakukan penekanan biaya yang cukup
besar pada komponen biaya untuk perawatan berkala.
Padahal seperti bagian gunung es yang ada dibawah permukaan laut
komponen biaya pengoperasian yang lain yang nominal biayanya lebih tinggi malah
tidak terlihat.
Selain dari biaya yang timbul maka faktor keandalan alat berat
dalam beroperasi juga sangat menentukan tingkat keuntungan yang bisa didapat.
Semakin andal alat berat tersebut maka sepanjang hidupnya alat tersebut akan
lebih banyak menggunakan waktunya untuk beroperasi dibandingkan alat menganggur
karena rusak.
Menejemen Peremajaan
Proses menejemen yang terakhir dalam menejemen alat beratadalah
menejemen peremajaan. Ruang lingkup pemikiran yang harus terliput adalah
bagaimana agar alat yang dioperasikan tetap bisa memberikan keuntungan bagi
pemilik alat walaupun usianya sudah habis atau nilai bukunya sudah nol.
Alat tersebut dapat diremajakan dengan melakukan rekondisi total
atau general overhaul tetapi bila sudah sampai pada suatu
nilai tertentu dimana biaya yang timbul ataupun tuntutan keadaan sudah tidak
menguntungkan lagi maka alat tersebut harus di jual atau bahkan
dibesituakan.
Pertimbangan yang dapat diambil dalam prosesperemajaan adalah:
- Perbaiki
problem yang timbul lalu operasikan terus.
- Rekondisi
total.
- Membeli
alat baru.
- Mengoperasikan
alat tadi apa adanya dengan beban kerja yang dikurangi.
Bagi pemilik alat maka pertimbangan biaya yang dapat
diperhatikan adalah:
- Apabila
biaya penyusutan masih dirasakan tinggi maka apapun yang terjadi terpaksa
tetap menggunakan alat yang tersedia.
- Apabila
biaya investasi tinggi jugaterpaksa menggunakan alat yang ada, tetapi
apabila ternyata biaya perbaikan tinggi (diatas 60% harga baru) maka akan
lebih bijaksana apabila membeli alat baru.
- Biaya
alat berhenti beroperasi tinggi juga lebih menguntungkan membeli alat
baru. Biaya alat berhenti ini adalahperhitungan kerugian yang timbul
dikarenakan alat tidak bisa bekerjapada suatu rentang waktu tertentu,
misalkan sebuah OHT pengangkut batu bara tidak dapat beroperasi selama
lima jam karena ada masalah mendadak maka bisa dihitung kerugian yang
timbul dengan menghitung tonase batu bara yang tidak dapat diangkut oleh
OHT tersebut selama lima jam.
- Biaya
model kuno adalah biaya yang ditimbulkan karena alat yang digunakan model
dan spesifikasinya sudah ketinggalan zaman. Sehingga walaupun dia berada
dalam kondisi terbaiknya tetap saja spesifikasinya tidak mampu memenuhi
tuntutan produksi saatini yang semakin tinggi.
Sebagai penutup penjelasan mengenai menejemen alat beratsekarang
kita lihat kecenderungan apa yang timbul di dunia manajemen peralatan
menghadapi tantangan yang semakin berat saat ini dan masa yang akan
datang:
- Yang
pertama adalah bahwa grup operasi dan perawatan harus menjadi suatu tim
yang solid untuk menjawab tantangan yang semakin berat.
- Perawatan
tidak hanya menitik beratkan pada melakukan perawatan yang terencana tapi
juga harus mulai diasah kemampuan untuk menangkap indikasi-indikasi
kerusakan sedini mungkin.
- Perawatan
yang dilakukan tidak lagi bersifat umum tapi harus disesuaikan dengan
kondisi local tempat dimana alat tersebut bekerja.
- Kemitraan
antara dealer dan pengguna yang harus diperkuat. Hal ini harus dilakukan
karena untuk bisa bertahan dalam dunia bisnis yang semakin ketat maka
setiap perusahaan harus memusatkan kekuatan pada bidang bisnis inti yang
digeluti. Sehingga untuk melakukan menejemen pengoperasian maka pihak
dealer harus secara proaktif membantu pemilik unit.
- Persaingan
dan standar kerja yang bertaraf global.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar