STUDY HEAVY EQUIPMENT
Oli
(Lubricant)
1. Fungsi Oli Pelumas secara Umum
Sebagai Pelumas
Sebagai Penyekat
Sebagai Pendingin
Sebagai Bantalan
Sebagai Anti Karat
Sebagai Pembersih
2. Jenis Oli
Hydraulic Oil
Engine Oil
Gear Oil
Automatic Transmission Fluid Oil
Brake Oil
3. Klasifikasi Oil
Engine Oil : CA, CB, CC, CD, CE, CF / °API, SAE 10 -
50.
Hydraulic Oil :
ISO VG - 32 s/d ISO VG-1500.
Gear Oil : AGMA, GL-I
s/d GL-8A, SAE 60~250.
4. Standard Kekentalan Hydraulic Oil
ISO - VG (Internasional Soceity of
Organization Viscosity Grade).
5. Standard Kekentalan Engine Oil
SAE (Soceity of Automatic Engineering).
6. Multi Grade Oil :
Oli yang mempunyai sifat kekentalannya dapat
menyesuaikan dengan perubahan temperatur.
Contoh
: SAE 20W-50.
Artinya :
Untuk ambient temperatur 20°C, oli tersebut mempunyai kekentalan SAE
20W, tapi pada temperatur 100°C, oli tersebut akan mempunyai kekentalan SAE 50.
7. Pengertian Kontaminasi & Deteriorasi
Kontaminasi :
Peristiwa rusaknya oli karena pengaruh dari luar system.
Deteriorasi :
Peristiwa rusaknya oli karena pengaruh dari dalam system.
8. Penyebab Kontaminasi
Debu
Kotoran
Air
dan sebagainya
9. Penyebab Deteriorasi
Karena proses pembakaran
Beroperasi pada tempat tinggi
Reaksi kimia cepat.
10. Aplikasi Oli Terhadap Pengaruh Temperatur
Contoh :
Untuk
Engine Oil Pan : Ambient temperatur dibawah 10°C s/d 10°C, gunakan SAE 10W.
Ambient
temperatur 0° s/d 30°C, gunakan SAE 30.
Apabila memakai
multi grade oil ,
dari kedua contoh ambient
temperatur tersebut, maka harus memakai Oli
SAE 10W-30.
Untuk
lebih detail : baca OMM (Operation and Maintenance Manual).
11. Pengertian Oxidasi & Demulsibility
Oksidasi adalah suatu peristiwa kimia sebagai
berikut :
Oli
+ O2 CO2 + H2O
panas
50°C.
Demulsibility adalah : Kemampuan oli untuk
memisahkan dirinya terhadap air.
12. Arti Viscosity Index
Adalah suatu angka yang menunjukkan ketahanan
(kestabilan kekentalan) oli terhadap perubahan temperatur. Angka viscositas
index ini bervariasi sebagai berikut :
Viscositas Index (VI) : 01 s/d 29
Rendah
30
s/d 79 Sedang
80
s/d 100 Tinggi
100
–up Sangat Baik.
Disarankan untuk standard industri angka VI
berkisar antara 90 - 100.
13. Mengapa oli harus diganti ?
Sebab,
setelah oli dipakai akan mengalami kerusakan (perubahan kekentalan) akibat
adanya :
Oxidasi (tidak dapat dihindari).
Timbulnya Kontaminasi & Deteriorasi.
Angka TBN-nya turun.
14. Cara Penanganan Oli
Cara Penyimpanan : Oli
harus terlindung/ tertutup
terhadap sinar matahari dan hujan.
Cara Pengisian :
Jangan membiarkan pipa isap pump (oil pump) menyentuh dasar drum pada
saat mengisi dan pipa outlet harus betul-betul bersih. Pipa & pompa oli
harus selalu bersih (kalau bisa jangan di campur dengan pompa solar).
15. Pengertian & fungsi additive (additive
asli dari oli)
Pengertian Additive : Adalah zat campuran
yang ditambahkan pada Base Oil untuk memper-tinggi ketahanan/kemampuan oli.
Fungsi Additive ini bermacam-macam seperti :
• Tahan terhadap temperatur tinggi
• Oilness
• Anti busa
• dan sebagainya
16. Arti & Tujuan TBN (Total Base Number)
Definisi :
Adalah Angka yang menunjukkan banyaknya unsur kandungan BASA di dalam Oli.
Tujuan :
Untuk menetralkan ASAM yang timbul didalam oli karena pengaruh kadar
sulfur pada fuel.
Reaksinya
sebagai berikut :
S +
O2 SO2
SO2
+ H2O H2SO4
H2SO4 adalah merupakan ASAM, dan harus dinetralkan
sebab akan menimbulkan proses karat.
Catatan :
Oli yang telah terpakai angka TBN-nya akan menurun (untuk Indonesia
angka minimum yang diizinkan adalah 12).
17. Pengertian
Synthetic Oil
Synthetic oil adalah oli yang menggunakan
base oilnya bukan dari CRUIDE OIL (minyak nabati/ hewani) tapi dibuat khusus
secara KIMIA, sehingga mempunyai ketahanan & kemampuan yang lebih baik .
Contoh : Top One, Power -Up, Omega, dan
lain-lain.
II. GREASE
1. Fungsi Grease (secara umum)
Sebagai pelumas padat
Sebagai pelindung karat
2. Standar kekentalan Grease
NLGI (National Lubricating Grease Institute) : 000 s/d 6
3. Applikasi Grease
Internal Application
External Application
Untuk
penggunaan lebih lanjut dan benar harus mengacu pada standar grease yang
dianjurkan (lihat petunjuk dan saran dari factorynya).
4. Cara Penanganan Grease
Simpan di tempat yang terlindung dari panas
matahari dan hujan.
Gunakan grease sesuai spesifikasi yang
direkomen.
Grease drum harus tertutup rapat.
III. FUEL
1. Jenis Fuel Yang Digunakan Pada DIESEL
ENGINE
Fuel Light Oil, ASTM D975 No. 2.
2. Pengaruh
kadar sulphur pada
fuel terhadap jadwal pergantian oli
Apabila kadar Sulfur berkisar antara 0,5 s/d
1%, maka jadwal pergantian oli adalah setengah dari jadwal regulernya.
Apabila kadar Sulfur > 1 %, maka jadwal
pergantian oli menjadi seper-empat dari jadwal regulernya.
3. Akibat Fuel Bercampur Kerosin
Sifat kerosin tidak bisa berfungsi sebagai
pelumas, oleh sebab itu faktor gesekan benda-benda yang bersinggungan menjadi
lebih besar.
Kerosin memiliki kadar Sulfur yang sangat
tinggi, sehingga bisa mempercepat proses korosi.
4. Cara Penanganan Fuel
Penyimpanan harus terlindung dari panas
matahari dan hujan.
Main tank harus dilengkapi dengan water drain
cock.
Kalau di dalam drum, pemasangan pipa isap
pompa (saat memompa fuel) harus ± 20 cm dari dasar drum (jangan sampai
menyentuh dasar drum).
IV. WATER
1. Syarat penggunaan air untuk Radiator
adalah :
Bersih, bening dan pH = 7
Gunakan City water.
2. Alat Untuk Mengukur Tingkat Keasaman Air
pH tester/pH meter
kertas lakmus
3. Fungsi Anti Freeze
Untuk mencegah air menjadi beku saat ambient
temperature < 0 °C.
Anti Freeze yang digunakan adalah Ethylene Glycol Base.
Contoh Anti Freeze : AF-ACL atau AF-PTL
4. Pengertian Radiator Penetran :
Adalah Suatu zat kimia yang dicampurkan
kedalam air radiator untuk mencegah timbulnya karat pada sistim pendingin.
Syarat yang harus diingat adalah : Untuk
pencampuran ini harus diketahui dulu berapa pH air yang dipakai dan jenis dari
penetran itu sendiri.
V. FILTER
1. Fungsi Dan Klasifikasi Filter
Fungsi :
Sebagai penyaring.
Klasifikasi :
• Menurut standar ISO :
a) Platted Paper Element
b) Wire Mesh Filter
c) Metal Edge Filter
• Menurut Standar SAE :
a) Strainer
b) Screen
c) Filter
(fine filter & coarse filter )
2. Pengertian Filtering Area
Luas
bidang Penyaringan sebuah filter
3. Arti Mesh dan Mikron
Mesh
: Jumlah pori-pori persatuan
inchi pangkat dua pada sebuah filter.
Mikron
: Besarnya diameter pori-pori
sebuah filter.
4. Model Filter
Cartridge
dan Element.
5. Jenis-Jenis Air Filter
Wet
Type dan Dry Type.
6. Penanganan Filter
Tidak boleh disimpan pada daerah yang lembab
Tidak boleh penyok dan jatuh
Harus terbungkus rapi (jangan terbuka
packingnya)
VI. FUNGSI KOMPONEN
1. Water Separator
Alat
untuk memisahkan/mendeteksi antara air
dan fuel.
2. Dust Indicator
Untuk
mengetahui kebuntuan Air Cleaner.
3. Corrosion Resistor
Untuk
mencegah timbulnya karat (berupa larutan kimia magnesium) untuk ph air normal.
4. Evacuator Valve
Untuk
membuang debu pada Air Cleaner Housing
saat engine mati.
5. Ejector Pipe
Untuk
menyedot debu dan kotoran dari Pre-Cleaner secara otomatis untuk dibuang keatmosfir melalui exhaust pipe
saat engine hidup.
6. Pre-Cleaner
Untuk
menyaring debu yang/partikel yang besar-besar. (sebagai penyaring awal).
7. Jenis Pre-Cleaner
Siklon
dan Multi Siklon (komaclone).
VII. TOOLS
1. Tachometer
Fungsi : Sebagai alat untuk mengukur putaran.
Cara
Kerja : Lihat Buku Petunjuk dari Factory.
Satuan : Revolution Per- Minute (RPM)
2. Compression Test KIT
Fungsi : Seperangkat alat ukur (KIT),
untuk mengukur tekanan kompresi di dalam cylinder.
Cara
Kerja : Lihat Buku Petunjuk dari Factory.
Satuan : Kg/cm²,
PSI
3. Blow-by Checker
Fungsi : Alat untuk mengukur tekanan didalam engine
crankcase.
Cara : Lihat Buku Petunjuk dari Factory.
Satuan : mmH2O
4. Temperatur Tester Kit
Fungsi : Alat untuk mengukur suhu.
Cara : Lihat Buku Petunjuk.
Satuan : °C, °F
5. Handy Smoke Checker
Fungsi : Alat untuk mengukur warna exhaust gas.
Cara : lihat buku petunjuk
Satuan : persentase warna, konversi ke bosch index.
6. Pressure Gauge
Fungsi : Alat untuk mengukur tekanan
Cara : lihat buku petunjuk.
Satuan : Kg/cm², Bar, PSI.
7. Radiator Cap Tester
Fungsi : Alat untuk mengukur tekanan didalam radiator.
Alat untuk mendeteksi kebocoran cooling system
Cara : lihat buku petunjuk
Satuan : Kg/cm², Bar.
8. Anemometer.
Fungsi : Untuk mengukur kecepatan angin. Untuk
mendeteksi kebuntuan Fin Radiator.
Cara : lihat buku petunjuk
Satuan : M / sec.
9. Dial Gauge
Fungsi : Sebagai alat untuk mengukur panjang, dalam
dsb
Cara : Sesuai kebutuhan,
Satuan : mm, Inch.
10. Thermometer / Thermistor
Fungsi : Alat
untuk mengukur suhu
Cara : lihat buku petunjuk
Satuan : °C, °F.
11. Jangka Sorong / Mistar
Fungsi : Sebagai alat ukur panjang lebar dsb.
Cara : lihat buku petunjuk
Satuan :
mm, cm, m.
12. Convex Scale
Fungsi : Sebagai alat ukur jarak / panjang.
Cara : lihat buku petunjuk
Satuan : cm, m.
13. Hydro Tester
Fungsi : Untuk mengukur berat jenis Electrolyte (air
batere).
Cara : lihat buku petunjuk
Satuan : -
14. Flow Meter
Fungsi : Alat untuk mengukur jumlah aliran (flow)
Cara : lihat buku petunjuk
Satuan : m3 / det, cm3 / det.
15. Multi Tester
Fungsi : Alat untuk mengukur Arus, tegangan dan
tahanan.
Cara : lihat buku petunjuk
Satuan : Arus
Ampere
Tegangan
Volt
Tahanan
ohm.
16. Shift Checker & Modulating Checker
Fungsi : Untuk memeriksa kondisi transmission shift,
lock up clutch transmission input/out put shaft speed.
Cara : lihat buku petunjuk
Satuan : Signal lamp., Rpm, Aur.
17. Wiring Harness
Fungsi : Alat untuk membantu mempermudah pengukuran
tegangan, tahanan.
Cara : lihat buku petunjuk
Satuan : -
18. Push Pull Scale
Fungsi : Alat /tool yang digunakan untuk mengukur
besarnya operating force.
Cara : lihat buku petunjuk
Satuan : -
19. Setting Shaft dan Setting Sleeve
Fungsi : Tool yang digunakan untuk mengadjust ketinggian release lever
pada main clutch.
Cara :
lihat buku petunjuk
Satuan : -
20. Air Leak Tester
Fungsi : Alat untuk mengukur kebocoran udara.
Cara : Lihat buku petunjuk.
Satuan : Kg / cm².
21. Wear Gauge Kit
Fungsi :
Alat untuk mengukur tingkat keausan komponen under carriage.
Cara : Lihat buku petunjuk.
Satuan : mm; cm; m.
22. Harness Checker / Checker Ass’y / System
Checker
Fungsi : Alat untuk mengukur engine rotating speed,
pump discharge pressure; TVC command current & throttle command
voltage.
Cara : Lihat buku petunjuk.
Satuan : Rpm; Kg / cm²; mA; Volt.
VIII. TECHNICAL TERM
1. Engine low idle
Adalah
putaran engine terendah tanpa beban.
2. Engine High Idle
Adalah
Putaran Engine tertinggi tanpa beban.
3. Rated Speed
Adalah
Putaran Engine pada horse power maximum.
4. Stall - speed
Adalah
Putaran engine ketika torque converter stall.
5. Hydraulic Stall Speed
adalah
Putaran Engine ketika hydraulic system dalam keadaan relief.
6. Full Stall Speed
Adalah
putaran engine pada saat Torque
Converter stall dan hydraulic system relief secara bersamaan.
7. Modulating Time
Adalah
waktu untuk menaikkan tekanan oli secara bertahap.
8. Compression Pressure
Adalah
tekanan udara yang dihasilkan pada langkah kompresi di dalam cylinder
9. Blow By Pressure
Adalah
tekanan udara / gas yang diizinkan di dalam crank case yang disebab-kan :
• Kebocoran ring piston engine / liner.
• Kebocoran seal pada sisi turbin
didalam turbo charge.
• Kebocoran Ring Piston pada compressor
udara / liner
10. Engine Hunting
Adalah
keadaan putaran engine yang tidak stabil.
11. Turbo Charger Play
Adalah
Gerakan Axial / Radial dari Rotor.
12. Boost Pressure.
Adalah
tekanan udara pada intake manifold untuk engine yang dilengkapi turbo charger.
13. Hydraulic Drift.
Adalah
Penurunan Attachment yang diizinkan disebabkan karena kebocoran pada hydraulic
system, ketika control lever posisi netral.
14. Internal Leakage of pump.
Adalah
kebocoran di dalam pump yang menyebabkan flow rate pump turun / effeciency
rendah.
15. Relief Pressure.
Adalah
tekanan oli maximum di dalam hydraulic system, pada saat operasi.
16. Safety Pressure.
Adalah
tekanan oil maximum di dalam hydraulic system pada saat lever Control Valve
dalam posisi netral yang diakibatkan adanya gaya dari luar pada actuator
DUMP
TRUCK PRODUCT
17. Brake Cooling System.
Adalah
system pendinginan pada rear brake, ketika retarder dioperasikan.
18. Brake Cooling Valve.
Adalah
berfungsi untuk mendrain oli pada oil brake cooling system ketika tidak
dioperasikan dan mengarahkan aliran oli serta membatasi tekanan oli maximum ke
rear brake pada saat retarder dioperasikan.
NISSAN
PRODUCT
19. Direct Drive Transmission.
Adalah
transmisi dengan gear ratio pada speed tertinggi sama dengan satu, dimana
kecepatan putaran engine dan putaran propeller shaft sama.
20. Over Drive Transmission
Adalah
transmisi dengan gear ratio pada speed tertinggi kurang dari satu dimana
kecepatan putar propeller shaft lebih besar dari kecepatan putar engine.
21. King Pin Inclination.
Adalah
sudut antara garis tengah King Pin dengan garis vertical dari ground.
22. Toe-In
Adalah
selisih jarak antara roda depan bagian dalam dengan roda depan bagian belakang.
23. Clutch Outer Lever
Adalah
jarak antara Outer Release Lever dengan ujung Flywheel Housing.
24. Caster
Adalah
besar sudut antara King Pin dengan garis vertical, jika dilihat dari sisi
kendaraan.
25. Camber
Adalah
sudut kemiringan roda dengan garis vertical dari ground.
26. Pre-Load
Adalah
beban awal/axial yang sengaja diberikan pada saat pemasangan Tapper Rolling
Bearing dengan tujuan untuk mendapatkan
bearing clearance.
TIMBERJACK
27. Input Test
Adalah
pengetesan yang dilakukan untuk mengetahui fungsi kerja dari EGS Control
System; dimana pada display akan menunjukkan kode N; F: FU;FD; R: RU: RD: P dan
C apabila kondisi EGS dlm keadaan normal.
28. MPH-Test
Adalah
pengetesan EGS yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kecepatan unit.
29. Configuration Test
Adalah pengetesan yang bertujuan untuk mengetahui
Standard Attachment yang dimiliki oleh unit.
30. Back Lash
Adalah
jarak bebas/clearance antara roda gigi yang bersinggungan/berpasangan.
31. Tooth Contact
Adalah
luasan permukaan bidang kontak antara roda gigi yang berpasangan.
32. Speed Sensor Test
Adalah
pengetesan EGS yang bertujuan untuk mengetahui RPM output Torque Converter (turbin shaft).
33. Posisi Control Lever EGS untuk melakukan
pengetesan adalah sebagai berikut
34. Cara Pengetesan
Posisikan Control lever EGS wseperti gambar
diatas sesuai dengan pengetesan apa yang akan dilakukan.
ON-Kan starting switch, tunggu beberapa
saat sampai control display menunjukkan
kode pengetesan yang dilakukan.
Khusus untuk Sensor Test dan MPH Test unit
harus dijalankan.
EXCAVATOR
35. Travel Deviation
Adanya
gerak menyimpang pada saat unit jalan lurus (Travel lever RH dan LH di
operasikan full) & dengan posisi attachement tertentu.
36. HIC (Hydraulic Idler Cushion) adalah
Sistem
penegang track & peredam track ass’y (dengan sistem hidrolik + accumulator)
pada saat front idler mendapat benturan dari luar.
37. Track Gauge
Adalah
jarak antara titik tengah track shoe kiri dan titik tengah track shoe kanan.
DUMP
TRUCK
38. Lock up clutch pressure
Adalah
tekanan yang diperlukan untuk meng-engage-kan lock up.
39. Front brake cut OFF
Adalah
valve yang berfungsi untuk memutus aliran udara dari brake valve ke relay
valve; sehingga saat front brake switch diposisikan “OFF” maka front brake
tidak berfungsi (released).
40. Brake Cooling Valve (BCV)
Adalah
brake valve yang berfungsi untuk membebaskan oil cooling brake saat retarder
tidak difungsikan guna mengurangi kerugian tenaga saat travelling.
41. Brake Cooling System
Adalah
sistem pendinginan brake (tipe disc & plate) dengan oil.
IX. TROUBLE ANALYSIS
1. Blow-By Pressure Terlalu Tinggi :
Terjadi
keausan pada Ring Piston & Liner
Sebabnya
:
• Interval Penggantian oil terlalu
lambat.
• Incomplet Combustion
• Pori-pori Air Cleaner membesar, karena
jaring
• diganti atau penyemprotan dengan tidak
tinggi
• Engine Breather buntu
• Valve, valve seat valve stem, keausan
berlebihan.
• Turbo charger, sisi turbin bocor.
2. Exhaust Temperature Terlalu tinggi
• Pada dasarnya : Air excess ratio
menjadi rendah, disebabkan oleh :
• Air cleaner buntu
• Valve clearance membesar
• Turbocharger tidak berfungsi.
• Timing tidak tepat
• Quantity fuel membesar (jumlah fuel
yang diinjeksikan)
3. Exhaust Temperature Terlalu Rendah …
disebabkan oleh :
• Valve clearance terlalu kecil
• Timing tidak tepat
• Quantity fuel kecil
• Engine Low Power, karena Fuel filter /
strainer buntu.
4. Boost Pressure Terlalu Rendah
Catatan
: Air Cleaner Good Condition
• Penyebabnya turbo tidak berfungsi
• Terjadi kebocoran / udara dari sisi
exhaust / intake manifold
5. Stall Speed Terlalu Rendah, penyebabnya :
• Engine low power
• Scavenging pump tidak berfungsi.
• Strainer T/C buntu.
6. Stall Speed Terlalu Tinggi
Pada
dasarnya Oli didalam T/C kurang, disebabkan :
• Oli kurang
• Setting Relief valve terlalu rendah
• Setting Regulator system terlalu
rendah
• Transmission Pump tidak berfungsi.
• Strainer buntu.
7. Pump Flow - Rate Rendah
• Internal Leakage telah membesar
• Strainer buntu
8. Steering wheel play terlalu besar
• Adjustment pada gear box tidak benar
• Terjadi ke ausan pada worm gear.
• Terjadi keausan pada rod-end nya.
9. Braking Effect Distance terlalu besar,
disebabkan :
• Air pressure rendah untuk WA 350 -
Up
• Setting Relief pada brake rendah.
• Terjadi keausan pada Disc brake / pad.
• Master brake tidak berfungsi.
• Brake pedal play terlalu besar.
10. Modulating Time terlalu besar, disebabkan :
• Disc-plate mengalami keausan sehingga
(strokenya besar)
• Flow pump kurang
• Oli kotor
• Transmssion Strainer buntu.
11. Boom Drift besar (hyd. Dift.), disebabkan :
Terjadi
Kebocoran pada piston rod & control valve
12. Engine Hunting
Pada
dasarnya fuel kemasukan udara, karena
• Filter kendor, dan
• Cari sebab-sebab lain yang berhubungan
dengan udara.
13. Engine Overheat disebabkan oleh :
• Air kurang
• Belt kendor
• Radiator Fin / core buntu
• Radiator pressure rendah (radiator cap
bocor)
• Thermostat Jammed tertutup
• Water pump rusak.
14. Charging system tidak berfungsi, disebabkan :
• V-Belt kendor
• Fuse putus
• Specific Gravity Battery Electrolyte
terlalu rendah.
• Alternator tidak berfungsi
• Regulator tidak berfungsi, dan
• Lihat Wiring Diagram.
15. Torque Converter Over heat disebabkan :
• Oli pada case transmission banyak
• Operasi selalu Over Lead.
• Sama dengan stall speed tinggi.
16. Transmission Slip, disebabkan :
• Transmission oil pressure drop.
• Clutch pack aus / bocor.
• Main relief valve spring lemah (WA).
• Oli kotor.
• Masuk angin / udara dalam system.
17. Steering terasa berat
• Masuk angin / udara dalam system.
• Strainer buntu.
• Linkage adjustment tidak benar.
• Flow Pump kurang.
• Demand valve tidak berfungsi (WA).
18. Parking brake tidak mau release
• Piston bocor pada chamber (WA)
• Air Pressure drop.
• Air valve tidak berfungsi.
19. Gerakan Work Equipment Lambat
• Terjadi kebocoran flow
• Linkage (keausan pada ball joint, dan lain-lain).
20. Transmission Cut-Off tidak bekerja
• Electrical switch tidak berfungsi.
• Solenoid valve tidak bekerja.
DUMP
TRUCK
21. ECMV
Pressure Tidak Tercapai
Penyebabnya
adalah :
• Transmission oil pressure drop
• Piston mengalami keausan/bocor.
• Oil kotor.
• Masuk angin/udatra kedalam sistem
• Controller rusak
• ECMV-nya sendiri rusak
22. Lock-Up Clutch Pressure Terlalu Rendah
Penyebabnya
adalah :
• Transmission oil pressure drop.
• Transmission oil pump rusak.
• Piston bocor/aus.
• Oil kotor.
• Masuk angin/udara ke dalam sistem.
• Controller rusak.
• Lock-Up Valve rusak.
• Lock-Up Solenoid rusak.
23. Retarder Brake Tidak Berfungsi
Penyebabnya
adalah :
• Tekanan udara kurang.
• Retarder Brake Valve rusak.
• Double Check Valve rusak.
• Reducing Valve rusak
24. Braking Effect Terlalu Jauh
Penyebabnya
adalah :
• Tekanan udara berkurang.
• Brake Valve rusak.
• Double Check Valve rusak.
• Relay Valve rusak
• Brake Chamber rusak.
• Piston bocor.
25. Torque Converter Lock-Up Clutch Tidak Bekerja
Penyebabnya
adalah :
• Speed Sensor tidak bekerja.
• Controller tidak berfungsi.
• Lock-up clutch pressure terlalu
rendah.
26. Torque Converter Low Eficiency
Penyebabnya
adalah :
• Torque Converter Relief Valve setting
terlalu rendah.
• Oil Flow yang masuk ke Torque
Converter kurang.
• Internal Leakage pada Torque Converter
terlalu besar.
NISSAN
PRODUCT.
27. Engine Knocking
Penyebabnya
adalah :
• Incorrect Injection Timing (terlalu
cepat / lambat
• Fuel Injection tidak baik (tidak
mengabut, setting pressure rendah, nozzle spring putus)
28. Clutch Slips
Penyebabnya
adalah :
• Clucth Lever play tidak normal
• Tidak ada play pada clutch pedal
• Pressure spring lemah
• Clutch-disc, flywheel/pressure plate
• Kemasukan air
29. Clutch Lever tidak ada play-nya :
• clutch master cylinder di-set terlalu
panjang
• clutch -disc telah mengalami keausan.
• push-rod pada clutch booster di-set
terlalu panjang.
• clutch cylinder return port tersumbat
buntu.
30. Unit Bergetar Saat Clutch Engage
Penyebabnya
adalah :
• Rivet pada clutch-disc terlepas
• b. Diapraghma Spring patah/putus.
• Pressure Spring patah/putus
• Damper Spring putus/patah.
31. Propeller Shaft Bergetar
Penyebabnya
adalah :
• Propeller Shaft dan Spline Yoke tidak
lurus.
• Propeller Shaft twist/bending
• U-Joint Journal/Needle Roller Bearing aus.
• Pemasangan Propeller Shaft kendor.
• Propeller Shaft tidak balance.
• Center Bearing patah/aus.
32. Clutch Pedal Terasa Berat
Penyebabnya
adalah :
• Clutch booster rusak atau air cleaner
buntu
• Bushing Release
Shaft jammed atau
pelumasannya kurang.
• Release Bearing Collar bending.
• Release Lever Bushing kurang
pelumasan.
33. Gear Shifting Terasa Berat,
Penyebabnya
adalah :
• Control linkage
• Adjustment control linkage tidak
benar.
• Control linkage journal kendor.
• Control linkage bengkok
• Transmisi
• Bearing rusak/aus
• Syncrhomesh mechanism tidak berfungsi.
• Gear shaft rusak/aus.
• Shifter shaft rusak
X. Transmisi Netral Sendiri
1. Penyebabnya adalah :
XI. Control Linkage
XII. poor condition
XIII. shift lever bergerak karena unit
bergerak.
XIV. Transmission
XV. locking ball aus/ball groove aus pada
shifter shaft.
XVI. locking spring patah/putus.
XVII. Steering Terasa Berat,
1. Penyebabnya adalah :
XVIII. Low hydraulic pressure
XIX. Pelumasan pada Steering Gear kurang
XX. Kemasukan udara pada sistem
XXI. Spool Valve tidak berfungsi
XXII. Power Piston O-Ring atau Seal Ring
mengalami keausan ataupun rusak.
XXIII. Power Cylinder dan Piston aus/rusak.
XXIV. Brake Spring Tidak Mau Release
1. Penyebabnya adalah :
XXV. Terjadi kebocoran udara pada piping
XXVI. Tekanan udara kurang dari standardnya.
XXVII. Piston pada Spring Brake Chamber aus/rusak.
XXVIII.
Seal pada piston Spring Brake Chamber
rusak
XXIX. Terjadi kebocoran udara pada Relay Valve.
XXX. Braking Effect Distance Terlalu Jauh
1. Penyebabnya adalah :
XXXI. Brake Valve stroke terlalu kecil.
XXXII. Camshaft tidak berfungsi.
XXXIII.
Push Rod pada Brake Chamber di-adjust terlalu pendek.
XXXIV.Gerakan
Relay Valve lambat/rusak.
XXXV. Brake Shoe Clearance terlalu besar.
XXXVI.Pada
TIMBERJACK
XXXVII. Winch Slips
1. Penyebabnya adalah :
XXXVIII. Setting oil pressure terlalu
rendah.
XXXIX.Seal
pada piston Winch bocor.
XL. Differential Lock Tidak Mau Engage
XLI. Seal piston bocor
XLII. Piston jammed SKD 450C
XLIII. Oil Pressure drop.
XLIV. Gas Buang Berwarna Hitam,
1. Penyebabnyaadalah :
XLV. Air Cleaner buntu.
XLVI. Bolt Intake manifold kendor.
XLVII. Pengabutan nozzle jelek.
XLVIII.
Compression pressure rendah.
XLIX. Transmission Overheat
1. Penyebabnya adalah :
L. Jumlah oli kurang
LI. Oil Filter buntu
LII. Oil Cooler buntu
LIII. Salah peng-operasian
LIV. Engine overheat
LV. De-Clutch tidak berfungsi
LVI. Transmission Clutch aus.
LVII. Tekanan oli terlalu rendah
LVIII. Gear Shifting Berlangsung Lambat
1. Penyebabnya adalah :
LIX. Control Lever EGS diposisikan
maju/mundur sebelum Controller bekerja
LX. Kecepatan unit terlalu tinggi
LXI. Tekanan oli terlalu rendah.
LXII. Lampu Hijau EGS “S” Menyala Pada Saat
Unit Bekerja
1. Penyebabnya adalah :
LXIII. Speed Signal terjadi gangguan.
LXIV. Lampu Orange EGS “T” Berkedip Cepat
1. Penyebabnya adalah :
LXV. Terjadi short circuit ke ground
LXVI. Service Brake Tidak Mau Release
1. Penyebabnya adalah :
LXVII. Back Pressure pada brake circuit terlalu
tinggi.
LXVIII.
Piston pada wheel brake end atau disc jammed.
LXIX. Steering Terasa Lambat / Berat
1. Penyebabnya adalah :
LXX. Priority Valve tidak berfungsi.
LXXI. Sistem kemasukan udara.
LXXII. Output pressure of pump terlalu rendah.
LXXIII.
Pada MOTOR GRADER
LXXIV.
Direct Drive System
LXXV. Main Clutch Slip :
LXXVI.
Engage spring lemah.
LXXVII. Stelan/adjustment plate kurang
rapat.
LXXVIII. Keausan plate & disk
berlebihan.
LXXIX.
Disk rusak.
LXXX. Main clutch lever operating force terlalu
ringan :
LXXXI.
Spring lemah.
LXXXII. Lingkage dari pedal sampai
clutch ada yang patah.
LXXXIII. Transmisi Gear susah masuk
LXXXIV. Control linkage.
LXXXV. Penyetelan/tidak tepat.
LXXXVI. Deformasi / bengkok.
LXXXVII. Transmisi.
LXXXVIII. Keausan atau kerusakan pada bearing.
LXXXIX. Keausan atau kerusakan pada gear
shaft
XC. Kerusakan pada shifting fork shaft.
XCI. Lainnya.
XCII. Clutch tidak bisa engage dengan sempurna.
XCIII. Inersia brake tidak bekerja dengan
sempurna.
XCIV. Oli pelumas yang digunakan terlalu kental.
XCV. Transmisi netral dengan sendirinya
XCVI. Control Linkage.
XCVII. Kondisi kontrol linkage sudah rusak.
XCVIII.
Shift lever bisa bergerak oleh gerakan/goncangan unit.
XCIX. Transmisi
C. Shifter aus atau mengalami perubahan
bentuk.
CI. Keausan pada interlock device.
CII. Spring pada interlock defice sudah
lemah atau patah
CIII. Transmisi slip :
CIV. Backlash antara gear terlalu besar.
CV. End play terlalu besar.
CVI. Spline pada hub aus atau ujung hub sudah
aus.
CVII. Main shaft bearing sudah aus.
CVIII. Parking Brake Tidak Mau Release.
CIX. Penyetelan tidak tepat.
CX. Cable macet.
CXI. Lever tidak bisa digerakkan dari posisi
engage ke disengage.
CXII. Hydraulic Drift Besar :
CXIII. Kebocoran pada silinder hidrolik.
CXIV. Kebocoran pada control valve.
CXV. Kebocoran pada hose-hose.
CXVI. Terjadi
Keausan Yang Berlebihan
Pada Front Wheel
CXVII. Penyetelan toe-in diluar standart.
CXVIII.
Front Wheel Bergetar
( Sway ) Ketika Berjalan
CXIX. Penyetelan toe-in diluar standart.
CXX. Tekanan pada masing-masing ban depan tidak
sama.
CXXI. Kontak ball nut jelek.
CXXII. Pemasangan roda tidak benar.
CXXIII.
Pemasangan front wheel bearing nut kendor.
CXXIV. Pada EXCAVATOR
CXXV.
Work Equipment Low Power disebabkan oleh
:
1. Catatan : Engine Good Condition.
CXXVI. Flow rate pump rendah (internal
leakage pada pump besar).
CXXVII. Internal leakage pada control
valve besar.
CXXVIII. Internal leakage pada Actuator
besar.
CXXIX. Setting tekanan main relief
valve rendah.
CXXX.
Oil Hidrolik kurang.
CXXXI. Terjadi Abnormal Noise pada
Hydraulic Pump disebab-kan Oleh :
CXXXII. Oil hidrolik kurang.
CXXXIII. Strainer untuk saluran suction
buntu.
CXXXIV. Jarak antara rocker cam dan shoe
retainer besar.
CXXXV. Hydraulic Oil Over Heating
disebabkan Oleh :
CXXXVI. Salah pemakaian oil.
CXXXVII. Hydrolic oil cooler buntu.
CXXXVIII. Setting Main Relief Valve terlalu
tinggi.
CXXXIX. Travel Deviation Out Of Standart
disebabkan Oleh :
CXL. Ketegangan track kanan & kiri tidak
sama.
CXLI. Internal leakage Travel Motor kiri &
kanan tidak sama.
CXLII. Kebocoran pada saluran swivel joint untuk
Travel Motor RH & LH tidak sama.
CXLIII.
Flow rate pump untuk Travel Motor RH & LH tidak sama.
CXLIV.Adjustment
lever travel LH & RH tidak sama.
CXLV. Swing Speed Lambat disebabkan Oleh :
CXLVI.Adjustment
PPC untuk swing terlalu longgar.
CXLVII. Internal leakage Swing Motor besar.
CXLVIII. Internal leakage spool swing
besar.
CXLIX.Setting
safety valve untuk swing terlalu rendah.
CL. Starting Motor tidak bisa berputar saat
starting Switch dari posisi “OFF” diputar ke posisi start disebabkan oleh
CLI. SG pada battery rendah.
CLII. Starting Motor rusak.
CLIII. Battery relay rusak.
CLIV. Starting switch rusak.
CLV. Fuse link putus.
CLVI. Safety relay rusak.
CLVII. Lihat wiring diagram.
CLVIII.
Engine Oil Pressure Monitor Panel tidak mau mati ketika Engine posisi “Idle”
disebabkan oleh :
CLIX. Oil pressure switch jamed tertutup.
CLX. Tekanan oil engine terlalu rendah.
CLXI. Oil Engine kurang.
CLXII. Strainer oil engine buntu.
CLXIII.
Terjadi short pada wiring untuk oil pressure monitor.
CLXIV.Pada
PART INVENTORY
CLXV. Periodical Replacement Part yaitu :
1. Item-item yang secara periodik diganti
seperti yang tertulis di buku operation and maintenance manual.
2. Contohnya : Filter elements (full flow,
fuel, by-pass, corrosion, air cleaner, transmission, steering, hydraulic oil
dan sebagainya.
CLXVI.Consumable
parts yaitu :
CLXVII. Item-item yang harus diganti
karena rusak diapakai.
1. Contohnya:
CLXVIII. Parts yang berhubungan dengan
perlengkapan earth-moving seperti blade dan bucket (teeth, cutting edges, end
bits, ripper point, bolt dan nut).
CLXIX.Parts
yang berhubungan dengan undercarriages (shoe assemblies, link assemblies,
carrier roller assemblies dan beserta komponen-komponen partnya seperti segment
teeth, final drives dan wear guards).
CLXX. Carbon brushes, brake dan clutch disc
linnings brake pads, rivets (termasuk KES items) dsb.
1. Atau
Item - item yang tidak rusak
dipakai akan tetapi relatif secara periodik diganti (biasanya item yang
berhubungan dengan electrical system).
2. Contohnya: Fuse, bola lampu, V-belts dan
sebagainya.
CLXXI.Vital
Parts yaitu :
CLXXII. Item-item yang harus diganti
karena materialnya sudah tua atau membutuhkan ukuran yang tepat.
1. Contohnya: Gears, bearings, shafts, pins,
rods, springs, bushings, cylinder heads, valves, liners, pistons, batteries dan
sebagainya.
CLXXIII. Item-item yang membutuhkan tahan
uji atau dengan ratio tahan uji atau dengan ratio tahan uji lebih dari 0,9 pada
15.000 jam operasi (20.000 jam kerja untuk dump truck).
CLXXIV. Item yang mana kalau rusak tidak
mesti diganti seperti componen part yang di las.
1. Contohnya: Cases, cover, brackets, main
frames, track frames dan sebagainya.
CLXXV. Losable parts yaitu :
CLXXVI. Item-item yang sangat rendah ratio
kerusakannya tetapi dapat hilang dalam operasi unit atau proses repair.
1. Contohnya : Starting key, radiator caps,
fuel caps, hydraulic oil tank caps dan sebagainya.
CLXXVII. Injurable parts yaitu :
CLXXVIII. Item yang sangat rendah ratio
penggantinya, tetapi sangat tinggi resiko rusaknya selama operasi atau
transportasi dari unit tersebut.
1. Contohnya : Mirrors, window glass, lamps
(termasuk KES items) dan sebagainya.
CLXXIX. Item yang sudah menjadi sifatnya
dan juga sangat tinggi kemungkinan, rusaknya selama operasi atau transportasi
dari unit tersebut.
1. Contohnya : Hoses (termasuk KES items)
pipings dsb.
CLXXX. Unreusable parts yaitu :
1. Item-item yang harus diganti pada proses
reasembling setelah overhoul.
2. Contohnya : Gasket, shims, oil seal,
rings, gasket kit, O-ring (termasuk KES item) dust seals dan sebagainya.
CLXXXI. Common parts yaitu :
CLXXXII. KES item tetapi tidak termasuk kode
1 s/d 6 seperti diatas (Parts yang umum).
1. Contohnya : Bolt, nuts, washers, nipples,
elbows, studs dan sebagainya.
CLXXXIII. Parts Asemblies yaitu :
CLXXXIV. Parts assemblies ini tidak termasuk
kode 1 s/d 7 seperti diatas.
1. Contohnya : Water pumps, generators,
alternator, starters, transmissions, torque converters, hydraulic pumps,
cylinder valves, turbochargers dan sebagainya.
Standard
Perawatan Alat Berat
1.
Fundamental Preventive Maintenance
Tahukah
anda, apa penyebab utama dari cepatnya kerusakan suatu alat, khususnya
alat-alat besar saat ini? Berapa kali anda mendengar, ”Besok kita greasing”,
atau ” Besok saja kita tambah oli/ganti oli”. Hari esok tiba, pekerjaan pun
sudah menunggu, sehingga tidak ada waktu untuk greasing (memberi atau
menambahkan Grease Multifak Pada Bushing dan Grease Starplex Pada Bearing).
Kebiasaan
yang buruk demikian akan berakibat mempercepat kerusakan atau (breakdown) atau
biaya operasi menjadi tinggi. Upaya kita dalam mencegah hal-hal yang tidak
diinginkan terseut adalah dengan mengusahakan Preventive Maintenance,
dimanakebiasaan tersebut merupakan tindakan yang baik untuk menjaga agar
performance unit yang kita miliki lebih baik.
Dengan
memahami fundamental preventive maintenance yang baik, anda dapat melakukan
perawatan dengan benar dan efisien. Kemudian anda pasti akan puas mendapatkan
sesuatu yang lebih dari alat-alat yang anda kelola.Dengan melaksanakan
preventive maintenance yang baik, akan didapatkan tiga keuntungan sebagai
berikut:
A.
Mengurangi kerusakan.
B.
Biaya operasi menjadi lebih hemat.
C.
Keamanan alat-alat terjamin dengan baik.
A.
Mengurangi Kerusakan.
Jika
kerja suatu alat lebih berat, preventive maintenance-nya pun perlu ditingkatkan
dan perlu di perhatikan lagi, bahwa oli yang baik pada saat maintenance
schedule yang tepat dapat berpengaruh kepada extend Overhoul Unit, seperti
halnya Produk Oli CALTEX Delo 400 Multi Grade dengan interval pergantian hingga
HM 500 akan lebih menambah Extend Overhoul Unit Menjadi HM18.600 dan hal ini
sudah kami Buktikan pada POP di PT. Newmont
B.
Hemat Biaya Operasi.
Sedikit
rupiah untuk untuk membiayai preventive maintenance berarti membayar sejumlah
besar kesempatan. Sebagai contoh melakukan ”Tune-Up” (penyetelan) suatu engine
sangat memungkinkan menghemat 15% konsumsi bahan bakar dan menaikkan power
lebih dari 10% dari sebelumnya.
C.
Keamanan Alat Terjamin untuk Dioperasikan.
Jika
unjuk kerja suatu mesin kurang baik, anda akan cenderung menambah waktu operasi
karena kemampuan alat yang berkurang. Anda akan cenderung untuk terus bekerja
atau tidak rela membuang-buang waktu hanya untuk mengejar target produksi,
sehingga perlakuan anda terhadap alat menjadi tidak terkontrol. Jagalah alat
anda seaman mungkin, pasti akan menghasilkan kondisi yang sempurna.
A. Filosopi
Maintenance
Secara
umum, perawatan dapat didefinisikan sebagai usaha tindakan–tindakan reparasi
yang dilakukan untuk menjaga agar kondisi dan performance dari sebuah mesin
selalu seperti kondisi dan performance dari mesin tersebut waktu masih baru,
tetapi dengan biaya perawatan yang serendah–rendahnya. Untuk menjaga agar
kondisi dan performance dari mesin tidak menurun adalah usaha–usaha teknis,
sedang menekan biaya perewatan sampai serendah mungkin menyangkut soal–soal
management. Sebagai alat, alat–alat besar harus diperlakuakln sebagai layaknya
sebuah alat produksi, yaitu agar selalu ada dalam kondisi yang prima dan dapat
bekerja secara terus menerus dengan down time yang seminimum mungkin. Hal–hal
tersebut dapat dicapai dengan perawatan atau pemeliharaan yang baik. Perawatan
yang dinilai baik adalah perawatan yang menghasilkan down time yang seminimum
mungkin tetapi tentu saja dengan biaya perawatan yang serendah mungkin.
Berikut
ini dapat dilihat beberapa kasus yang menajadi penyebab terjadinya kerusakan.
Add
caption
Kerusakan
akibat kesalahan / kelainan maintenance menduduki porsi tertinggi yaitu :
41%:
Kelainan dalam Periodic Maintenance.
31%:
Kelainan daam Daily Inspection.
Dengan
demikian kesalahan dalam maintenance memiliki porsi 72 %.
B.
Definisi Maintenance
Dengan
demikian perawatan / maintenace dapat diartikan secara definitive adalah:
Suatu
kegiatan service untuk mecegah timbulnya keausan tidak normal (kerusakaan)
sehingga umur alat dapat mencapai atau sesuai umur yang direkomendasikan oleh
pabrik.Kegiatan service meliputi pekerjaan berupa :
a.
Pengontrolan
b.
Penggantian
c.
Penyetelan
d.
Perbaikan
e.
Pengetesan
Kesemuanya
itu merupakan aktivitas secara total. Masih banyak mekanik yang
beranggapan
bahwa maintennce / perawatan adalah pekerjaan ringan seperti, ganti oli, ganti
filter, membersihkan filter udara, mengganti air pendingin dan beberapa
pekerjaan rutin sehari – hari. Kadang – kadang seperti overhaul, machine
inspection, tidak dianggap sebagai aktivitas maintenace. Dengan demikian,
mainetanace diadakan bertujuan untuk :
1.
Agar suatu alat selalu dalam keadaan siaga siap pakai ( High availability =
berdaya
guna
physic yang tinggi ).
2.
Agar suatu alat selalu dengan kemampuan prima, berdaya guna mekanis yang paling
baik
( Best Performance ).
3.
Agar biaya perbaikan alat menajdi lebih hemat ( Reduce repair cost )
Agar
tujuan tersebut tercapai maka maintenance perlu diorganisir sedemikian rupa.
Berikut
adalah managemen organisasi yang dilakukan :
MAINTENANCE
CHART
Tidak ada komentar:
Posting Komentar